Di banyak masjid, kita melihat halaqah-halaqah Al-Qur’an. Suara bacaan yang merdu terdengar, ayat-ayat suci dilantunkan dengan tajwid yang indah. Pemandangan yang menenangkan hati. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: apakah Al-Qur’an hanya sebatas bacaan dan hafalan?
Suatu ketika, sahabat yang mulia, Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, memasuki sebuah masjid. Di dalam masjid tersebut, beliau mendapati beberapa halaqah ilmu yang mempelajari Al-Qur’an. Setelah melihat halaqah-halaqah tersebut, beliau pun berhenti dan memberikan nasihat dengan mengatakan:
إن استقمتم فقد سبقتم سبقا بعيدا
“Jika kalian beristiqamah, maka sungguh kalian akan meraih kemenangan yang besar.” [1]
Maksud dari nasihat beliau adalah: beristiqamahlah jika kalian menginginkan kemenangan di dunia dan akhirat, yaitu dengan mengamalkan apa yang telah dipelajari dari Al-Qur’an. Hendaknya seseorang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Adapun jika Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai hiasan semata agar dianggap sebagai ahli Al-Qur’an namun tidak berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an, maka sungguh ia telah jauh dari Al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an adalah jalan yang lurus. Barang siapa berpegang teguh dengannya, maka dialah yang akan memperoleh kemenangan. Sebaliknya, barang siapa berpaling darinya, maka sungguh ia akan celaka dan tersesat.
Sebagaimana atsar yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
يا معشر القراء استقموا فقد سبقتم سبقا بعيدا فإن أخذتم يمينا وشمالا لقد ضللتم ضلالا بعيدا
“Wahai para pembaca (Al-Qur’an), beristiqamahlah, niscaya kalian akan meraih kemenangan yang besar. Namun, jika kalian menoleh ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian akan tersesat sejauh-jauhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 7282) [2]
Atsar di atas juga merupakan dalil tentang wajibnya berpegang teguh kepada Sunnah Nabi ﷺ. Dan maksud barangsiapa yang menoleh ke kanan dan kekiri adalah seseorang jauh dari tuntunan sunnah Nabi ﷺ Oleh karena itu, beliau mengatakan استقموا (beristiqamahlah), yaitu berpegang teguhlah kepada Sunnah Nabi ﷺ. Jika seseorang menjauh dari Sunnah Nabi ﷺ dan melakukan amalan yang tidak ada tuntunannya dalam syariat, maka sungguh ia telah jauh dari kebenaran. [3]
Atsar tersebut juga mengandung nasihat bagi para pembaca Al-Qur’an yang hanya memperhatikan keindahan bacaan dan bagusnya suara, tetapi tidak memperhatikan tadabbur, pengamalan, serta akhlak yang terkandung di dalamnya. Siapa pun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an sebatas pada hal-hal tersebut, maka ia masih jauh dari kriteria sebagai Ahlul Qur’an. Adapun orang yang berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an dan beradab dengan adab-adabnya, maka dialah yang termasuk Ahlul Qur’an, meskipun ia seorang awam yang tidak pandai membaca Al-Qur’an. [4]
Catatan Kaki
[1] & [2] Syarah Risalah Fadhlul Islam, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hlm. 26.
[3] Penjelasan Syaikh Dr. Maher bin Abdurrahim Khoujah hafizhahullah.
[4] Syarah Risalah Fadhlul Islam, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hlm. 27.