Di antara amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah dan termasuk ketaatan yang paling utama adalah menyambung tali silaturahim. Termasuk karunia dan kemurahan Allah, Dia menjadikan silaturahim sebagai sebab keberkahan waktu dan bertambahnya rezeki seorang hamba. Nabi ﷺ bersabda:

«من أحب أن يبسط له في رزقه وينسأ له في أثره فليصل رحمه»

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih)

Seorang Muslim seharusnya senantiasa menjaga dan menyambung hubungan kekerabatan. Salah satu cara baik yang bisa dilakukan adalah menetapkan waktu khusus misalnya sekali dalam sepekan atau sebulan untuk mengunjungi kerabat dan berbincang bersama mereka. Kebiasaan ini sangat bermanfaat dalam menjaga ketenangan dan kebersihan hati.

Silaturahim tidaklah menghalangi seseorang dari menuntut ilmu, berdakwah, atau memberi manfaat kepada manusia. Bahkan, mengunjungi mereka adalah keberkahan dalam hidup. Barang siapa ingin bertambah keberkahan hidupnya, hendaklah ia menjaga silaturahim.

Berkata Ibnu At-Tin:

«صلة الرحم تكون سبباً للتوفيق في الطاعة والصيانة عن المعصية فيبقى بعده الذكر الجميل فكأنه لم يمت»

“Silaturahmi menjadi sebab diberinya taufik untuk melakukan ketaatan dan penjagaan dari kemaksiatan. Dengan itu, setelah wafatnya ia tetap dikenang dengan kebaikan, seakan-akan ia tidak mati.”

Langkah-Langkah Menuju Kebahagiaan

Seorang Muslim hendaknya tidak merasa berat untuk berbuat baik kepada mereka (kerabatnya). Karena keluarga adalah orang yang paling berhak mendapatkan perhatian, paling utama untuk diurus, dan paling pantas dimuliakan serta dilindungi. Allah ta’ala berfirman:

﴾وَأُوْلُوا الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَبِ ٱللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴿

“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah, sebagian mereka lebih berhak terhadap sesamanya menurut Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs.Al-Anfal:75)

Rasulullah ﷺ bersabda:

«والرحم معلقة بالعرش تقول من وصلني وصلته ومن قطعني قطعته»

“Silaturahmi itu bergantung di ‘Arsy, ia berkata: ‘Siapa yang menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya.” (Mutafaq ‘alaih)

Silaturahmi adalah sebab taufik dalam kehidupan dan bertambahnya harta. Dengannya Allah menuliskan kemuliaan. Menyambungnya adalah ibadah yang agung, termasuk amalan yang paling utama. ‘Amr bin Dinar berkata:

«ما من خطوة بعد الفريضة أعظم أجراً من خطوة إلى ذي الرحم»

“Tidak ada langkah setelah (menunaikan) kewajiban yang lebih besar pahalanya daripada langkah menuju kerabat.”

Kerabatmu adalah bagian dari dirimu. Jika engkau berbuat baik kepadanya, maka sejatinya engkau berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika engkau pelit kepadanya, maka sesungguhnya engkau pelit kepada dirimu sendiri. Allah menciptakan rahim (hubungan kekerabatan) dan mengambilkan baginya nama dari nama-Nya. Rabb kita berjanji untuk menyambung orang yang menyambungnya:

«أما ترضين أن أصل من وصلك وأن أقطع من قطعك؟ قالت: بلى، قال: فذاك لك»

“Tidakkah engkau ridha bahwa Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Ia menjawab: “Ya.” Allah berfirman: “Itulah untukmu.” (Mutafaq ‘alaih)

Orang yang menyambung silaturahim akan mendapatkan segala kebaikan, dan tidak ada seorang pun yang memutuskannya (dari kebaikan itu). Namun, siapa yang diputus (dari rahmat) oleh Allah Yang Maha Perkasa, maka tidak ada kebaikan yang akan sampai kepadanya, dan ia akan hidup dalam kesedihan.

Lalu, Bagaimana Aku Menyambung Silaturahim?

Silaturahim dilakukan dengan terus menjalin hubungan melalui kunjungan, memuliakan yang dimuliakan di antara mereka, menjenguk yang sakit, memudahkan yang kesulitan, serta memperhatikan keadaan mereka.

Di zaman modern, berbagai sarana menjadi penolong dalam ketaatan untuk menunaikan ibadah ini. Telepon menjadi perpanjangan jembatan kasih sayang dan cinta, surat-menyurat menjaga kehangatan hubungan, dan menyampaikan salam memperbarui ikatan. Setiap sarana yang mubah untuk mempererat hubungan kekerabatan hendaknya dimanfaatkan dalam menunaikan ibadah ini.

Mengajak, membimbing, mengarahkan, dan menasihati kerabatmu lebih ditekankan daripada kepada selain mereka. Allah ta’ala berfirman:

﴾وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ﴿

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Qs.Ash-Syu’ara:214)

Bagaimana Jika Kerabatku Berbuat Buruk Kepadaku?

Dalam sebuah hubungan tidaklah sama, begitu juga dalam hal kasih sayang, dan perhatian. Silaturahim adalah ibadah yang agung; ia tidak dilakukan karena orang lain melakukannya, dan tidak ditinggalkan karena kerabat meninggalkannya. Akan tetapi, seorang Muslim tetap menyambung silaturahim kepada kerabatnya meskipun mereka memutuskannya, sebagai bentuk pelaksanaan ibadah. Ia menyambung mereka bukan untuk membalas, tetapi sebagai penghambaan kepada Allah ta’ala. Nabi ﷺ bersabda:

«ليس الواصل بالمكافئ، ولكن الواصل من إذا قطعت رحمه وصلها»

“Bukanlah orang yang menyambung (silaturahim) itu yang sekadar membalas, tetapi orang yang menyambung adalah yang ketika diputus oleh kerabatnya, ia tetap menyambungnya.” (HR. Imam Al-Bukhori)

Kerabat Nabi ﷺ adalah orang-orang musyrik yang telah menyakiti beliau dengan sangat keras. Namun demikian, beliau tetap menyambung hubungan dengan mereka dan bersabda:

«غير أن لكم رحماً سأبلها ببلالها»

“Hanya saja, kalian memiliki hubungan kekerabatan denganku, dan aku akan tetap menyambungnya.” (HR.Muslim)

Bahkan Allah ta’ala berfirman kepada beliau meskipun mereka memeranginya:

﴾قُل لَا أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا ٱلْمَوَدَّةَ فِي ٱلْقُرْبَى﴿

“Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu imbalan apa pun atasnya, kecuali kasih sayang dalam hubungan kekerabatan.” (Qs.Ash-Syuraa:23)

Apabila kerabat berbuat buruk kepadamu, maka balaslah dengan kebaikan. Inilah obat syar’i yaitu: keburukan dibalas dengan kebaikan. Dalam sikap ini terdapat ketinggian dan kemuliaan di sisi Allah, serta kehormatan di hadapan manusia, karena mampu menahan diri dari keburukan. Allah ta’ala berfirman:

﴾ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ﴿

“Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik.” (Qs.Al-Mukminun:97)

Tidak ada yang diberi taufik untuk memiliki sifat ini kecuali orang yang merendahkan dirinya di hadapan Allah. Selain itu, ada kebaikan lain dari berbuat baik kepada mereka meskipun mereka berbuat buruk, yaitu menahan amarah (kadzmul ghaizh). Ini termasuk sifat penghuni surga. Allah ta’ala berfirman:

﴾وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴿

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs.Ali-Imran:133)

﴾ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّاءِ وَٱلضَّرَّاءِ وَٱلْكَاظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ﴿

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs.Ali-Imran:134)

Membalas keburukan mereka dengan keburukan adalah meninggalkan ibadah menyambung silaturahim, memicu terjadinya pemutusan hubungan, serta terjerumus dalam jerat dan perangkap setan.

Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu ia berkata:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat; aku menyambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersikap lembut kepada mereka, tetapi mereka berlaku kasar kepadaku.”

Maka beliau ﷺ bersabda:

«لَئِنْ كَانَ كَمَا تَقُولُ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ»

“Jika benar seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memberi mereka makan abu panas. Dan akan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu untuk menghadapi mereka selama engkau tetap bersikap demikian.”(HR.Muslim)

Sumber:

Kitab Khuttuwatu ilā As-Sa‘ādah, karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 53-57