Ketika kita ditanya apakah kita ingin masuk surga atau tidak, tentu semua akan menjawab ingin, bahkan dengan keinginan yang sangat besar. Namun, tahukah kita bahwa tanpa perlu ditanya atau ditawari pun, Nabi ﷺ telah menjamin bahwa umatnya akan masuk surga

Akan tetapi, meskipun demikian, ada orang-orang yang enggan untuk masuk surga. Benar, lisannya mengatakan ingin masuk surga. Namun, apakah surga dapat diraih hanya dengan kata-kata tanpa usaha untuk mencapainya? Tentu tidak mungkin. Segala sesuatu dalam kehidupan ini membutuhkan perjuangan sebagai bukti bahwa kita benar-benar ingin meraih tujuan tersebut.

Sebagai contoh dalam urusan dunia: ketika kita memiliki suatu tujuan, misalnya ingin sekali berkunjung ke sebuah tempat yang memiliki pemandangan indah, apakah kita cukup dengan berkata-kata saja agar dapat sampai ke tempat tersebut? Hal itu tidak mungkin terjadi. Akal yang sehat akan mengarahkan seseorang untuk berusaha mengumpulkan bekal yang cukup agar ia dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.

Perumpamaan ini sangat mudah dipahami karena sesuai dengan fitrah manusia bahwa segala sesuatu membutuhkan perjuangan. Demikian pula dengan surga. Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa umatnya akan masuk surga. Namun, beliau juga memberikan syarat agar seseorang dapat masuk ke dalamnya, yaitu dengan menaati beliau, sebagaimana sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى “. قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : ” مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, niscaya ia masuk surga; dan barang siapa mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari 7280)[1]

Lihatlah hadis di atas. Rasulullah ﷺ memberikan jaminan kepada kita bahwa kita akan masuk surga. Namun, sungguh mengherankan, ada orang yang justru enggan untuk masuk ke dalam surga. Hal ini membuat para sahabat bertanya-tanya, siapakah yang enggan tersebut?

Nabi ﷺ kemudian mengabarkan bahwa siapa saja yang taat kepada beliau, dialah yang termasuk dalam jaminan tersebut. Namun, ketaatan seperti apa yang dimaksud?

Yaitu membenarkan apa yang beliau kabarkan, menaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan peringatkan darinya ﷺ, serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau bawa ﷺ bukan dengan hawa nafsu, bukan pula dengan pendapat-pendapat (akal semata), dan bukan dengan perkara yang diada-adakan.[2]

Adapun orang yang enggan masuk surga itu hanya satu, yaitu orang yang tidak menaati beliau ﷺ. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bahwa jalan menuju surga tidaklah bertabur bunga. Telah diketahui bahwa orang yang berpegang teguh kepada Islam akan menghadapi gangguan dan kesulitan dari manusia. Namun, ia wajib bersabar, terlebih lagi pada akhir zaman ketika fitnah semakin banyak. Orang yang berpegang teguh pada agamanya di akhir zaman seperti orang yang menggenggam bara api, karena beratnya kesulitan dan gangguan yang ia hadapi di jalan tersebut.[3]

Catatan kaki:

[1] Jāmi‘ al-Kutub at-Tis‘ah.

[2] binbaz.org.sa

[3] Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Syarah Risālah Faḍlul Islām, hlm. 22.