Kemuliaan seorang hamba terletak pada ketaatannya kepada Allah ta’ala dan usahanya menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Kemudian, ia menghiasi amalnya dengan keikhlasan. Inilah inti dari seluruh ajaran agama: seorang hamba beramal dengan ikhlas. Sekaligus mahkota seorang hamba dan sumber kebahagiaan yang hakiki.
Urusan seorang hamba tidak akan sempurna, dan ia tidak akan bisa meraih keberkahan dalam hidupnya, sampai ia beramal dengan ikhlas. Allah pun telah memerintahkan Rasul-Nya untuk memperhatikan perkara ini. Keikhlasan banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya firman Allah ta’ala:
﴾وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴿
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, serta agar mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Baiknya amal seseorang hanya dapat diraih dengan keikhlasan niat. Di antara sebab diterimanya amal di sisi Allah adalah keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana dikatakan oleh sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
لا ينفع قول وعمل إلا بنية، ولا ينفع قول وعمل ونية إلا بما وافق السنة
“Tidak bermanfaat ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak bermanfaat ucapan, amal, serta niat kecuali jika sesuai dengan sunnah.”
Sejak dahulu hingga sekarang, sangat sedikit orang yang benar-benar beramal karena Allah. Sebab, tabiat manusia cenderung mencintai popularitas, ingin dikenal, dan ingin disebut sebagai orang yang bernilai di mata manusia, bukan di sisi Allah ta’ala.
Banyak ulama besar dalam sejarah Islam memulai karya-karya mereka dengan pembahasan niat. Hal ini tampak dari tulisan-tulisan mereka yang diawali dengan hadis “innamal a‘malu binniyyat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan dalam beramal.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
ما عالجت شيئًا أشد علي من نيتي، لأنها تتقلب علي
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk aku perbaiki daripada niatku, karena ia mudah berubah-ubah.”
Apa Itu Ikhlas?
Ikhlas adalah seseorang melakukan segala amal semata-mata karena Allah, tanpa menginginkan selain-Nya. Bukan karena riya, bukan untuk mencari popularitas, bukan untuk kedudukan, dan bukan pula untuk mendekatkan diri kepada manusia. Ia juga tidak mengharapkan pujian dan tidak takut terhadap celaan manusia.
Jika niatmu murni karena Allah dan tidak dihiasi tujuan selain-Nya, maka ingatlah perkataan Al-Fudhail bin ’Iyadh:
“Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Maka, ikhlaskanlah seluruh amal hanya untuk-Nya dan jangan bergantung kepada siapa pun. Jadikan dirimu termasuk dalam firman Allah ta’ala:
﴾قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴿
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri.” (QS. Al-An‘am: 162–163)
Apakah Banyaknya Amal Tanda Keikhlasan?
Tolok ukur dalam Islam bukanlah banyaknya amal, melainkan keikhlasan. Amal yang sedikit tetapi ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak namun tanpa keikhlasan. Amal tanpa keikhlasan bukan hanya sia-sia, bahkan bisa berujung dosa.
Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah ta’ala:
﴾الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴿
“(Yang terbaik amalnya) adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”
Beliau menjelaskan:
“Amal yang ikhlas tetapi tidak benar tidak akan diterima. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, hingga amal itu menjadi ikhlas dan benar sekaligus. Ikhlas adalah karena Allah, dan benar adalah sesuai dengan sunnah.”
Amalan Apa Saja yang Harus Ikhlas?
Sebagian orang mengira bahwa keikhlasan hanya berlaku pada ibadah yang tampak, seperti salat, membaca Al-Qur’an, berdakwah, dan berinfak. Anggapan ini keliru.
Keikhlasan wajib dalam seluruh ibadah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti mengunjungi tetangga, menyambung silaturahmi, dan berbakti kepada kedua orang tua. Semua itu termasuk ibadah agung yang menuntut keikhlasan.
Setiap perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah harus disertai niat yang ikhlas, termasuk dalam muamalah seperti jujur dalam jual beli, berbuat baik kepada istri, dan mendidik anak dengan mengharap pahala.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَضَعُهَا فِي فِيِّ امْرَأَتِكَ»
“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan mengharap wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan hingga suapan yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu.” (Muttafaq ‘alaih)
Ketika aku ikhlas dalam beramal
Jika keikhlasan semakin kuat, seorang hamba akan diangkat di tinggikan derajatnya di sisi Allah ta’ala.
Abu Bakr bin ’Ayyash berkata:
“Kami tidak mendahului Abu Bakr Ash-Shiddiq karena banyaknya salat dan puasa, tetapi karena iman yang tertanam dalam hatinya dan ketulusan nasihatnya kepada manusia.”
Abdullah bin Al-Mubarak berkata:
“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.”
Dengan amal yang sedikit namun ikhlas, pahala akan dilipatgandakan. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ…»
“Barang siapa bersedekah meski hanya seberat satu biji kurma dari hasil yang baik, maka Allah akan mengembangkannya hingga menjadi seperti gunung yang besar.” (Muttafaq ‘alaih)
Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah ta’ala:
﴾وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ﴿
“(Pahala itu dilipatgandakan) sesuai dengan kadar keikhlasan dalam amal.”
Jika keikhlasan semakin kuat, niat semakin agung, dan amal saleh disembunyikan pada perkara yang memang disyariatkan untuk disembunyikan, maka seorang hamba akan semakin dekat dengan Rabb-nya dan mendapatkan naungan di bawah ‘Arsy-Nya.
Nabi ﷺ bersabda:
«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ…»
“Tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya…”
dan beliau juga menyebutkan di antaranya:
«وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا…»
“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Inilah pesan tentang ikhlas. Hendaknya kita semua memperhatikan perkara ini, karena dengan ikhlas kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan ikhlas pula, seseorang dapat memperoleh keberkahan hidup serta peninggian derajat di sisi Allah tabaraka wata’ala.
Sumber:
Kitab Khuttuwatu ilā As-Sa‘ādah, karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 15–19.