Kata jalan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dapat diartikan dengan ṭarīq (طريق) atau ṣirāṭ (صراط).[1] Ketika kita berbicara tentang jalan, yang terlintas dalam benak kita adalah adanya jalan yang lurus dan jalan yang bengkok atau menyimpang. Dalam hal ini, jalan yang bengkok merupakan perumpamaan bagi agama-agama sebelum Islam dan kelompok-kelompok yang menyimpang, sedangkan jalan yang lurus adalah perumpamaan bagi agama Islam. Sebab, setelah datangnya Islam, tidak ada lagi agama yang lurus di sisi Allah selain Islam.
Islam adalah jalan Allah yang lurus. Ia tidak ada di dalamnya penyimpangan dan tidak pula penyelewengan. Bahkan, ia adalah jalan yang seimbang, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula meremehkan.[2] oleh karena itu Allah Ta‘ala memerintahkan kita untuk mengikuti islam.
Yang dimaksud dengan Islam yang lurus di sini adalah Islam yang bersih dari segala bentuk penyekutuan terhadap Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya, baik dalam rububiyah, uluhiyah, maupun asma dan sifat-Nya (syirik). Selain itu, Islam yang lurus juga terbebas dari perbuatan yang diada-adakan dalam urusan ibadah (bid‘ah).[3] Inilah Islam yang lurus yaitu islam yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunah Nabi ﷺ dan berjalan di atas pemahaman para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:
وَأَنَّ هَذَا صِرَطِى مُسْتَقِيمَا فَٱتَّبِعُوهٌ وَلَا تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
”Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya…”(QS.Al-An’am:153)
Dan di antara yang diwasiatkan Allah kepada kalian bahwa agama Islam adalah jalan Allah yang lurus maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan kesesatan sehingga akan mencerai-beraikan kalian dan menjauhkan kalian dari jalan Allah yang lurus. Demikianlah seharusnya kalian mengikuti jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah Allah wasiatkan kepada kalian. Agar kalian takut akan siksa-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. [4]
Imam Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan:
السبل: البدع والشبهات
“Jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang di dalamnya terdapat perkara-perkara yang diada-adakan dalam urusan ibadah (bid‘ah) serta perkara yang samar-samar dalam urusan agama (syubhat).” [5]
Jalan-jalan selain jalan Allah jumlahnya sangat banyak, yaitu jalan-jalan yang ditempuh oleh para pengikut hawa nafsu.[5] Oleh karena itu, Allah melarang untuk mengikuti jalan-jalan tersebut karena dapat menjauhkan seseorang dari jalan Allah yang benar, serta membahayakan keadaannya di akhirat kelak. Adapun orang-orang yang menempuh jalan yang diperintahkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang akan memperoleh keberuntungan di sisi Allah Ta‘ala.[7]
ذَلِكُمْ وَصَّكُم بِهِ، لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“…Itulah yang Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS.Al-An’am:153)
Maksudnya, apabila kalian melaksanakan apa yang telah Allah jelaskan kepada kalian, baik dari sisi ilmu maupun amal, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang bertakwa dan termasuk hamba-hamba Allah yang beruntung. Allah menyebut jalan itu dalam bentuk tunggal dan menisbahkannya kepada-Nya, karena ia adalah satu jalan saja yang mengantarkan kepada-Nya. Dan Allah-lah yang memberi pertolongan kepada orang-orang yang menempuh jalan tersebut.[8]
Catatan kaki:
[1] almaani.com
[2] Syarah Risalah Fadhlul Islam Syaikh Dr. Sholeh Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan , hlm. 20.
[3] Penjelasan Syaikh Dr. Maher bin Abdurrahim Al-Khoujah dalam kanal YouTube Innamal ilmu bi Ta’allum.
[4] Tafsir Al-Muyassar, cetakan Malik Fahd.
[5] Syarah Risalah Fadhlul Islam, hlm. 20.
[6], [7] Syarah Risalah Fadhlul Islam Syaikh Dr. Sholeh Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, hlm. 21.
[8] Tafsir As-Si’di