Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan hanya terfokus pada banyaknya harta. Kekeliruan dalam memahami makna kebahagiaan ini membuat seseorang tidak lagi memikirkan bagaimana cara meraihnya, apakah dengan cara yang halal atau haram; yang penting baginya adalah bagaimana ia mendapatkannya, entah dengan cara halal maupun haram.
Bahkan, ia mengeluh bahwa dirinya merasa sulit mencari yang halal. Padahal, jika kita jujur dan mau belajar, kita akan mendapati bahwa perkara di dunia ini masih sangat banyak yang Allah halalkan dibandingkan dengan apa yang Allah haramkan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian orang sampai pada titik mencari harta dengan cara yang Allah haramkan. Padahal, baik dengan cara halal maupun haram, seseorang tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah Allah tetapkan. Artinya, ketika engkau mencari dengan cara halal, maka itulah yang akan engkau dapatkan, meskipun engkau mencarinya dengan cara yang diharamkan oleh Allah.
Perlu kita ketahui bahwa kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan kecuali dengan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya, serta dengan beramal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوْلًا سَدِيدًا()يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ, فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (٤)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab:70-71)
Al-Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
الإيمان بالله ورسوله هو جماع السعادة وأصلها،(١) فالحياة وما فيها من متاع لا سعادة فيها بلا تقوى.
“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kumpulan (inti) kebahagiaan dan pokoknya. Kehidupan dan segala kenikmatannya tidak mengandung kebahagiaan tanpa ketakwaan.”
Seorang penyair berkata:
“Aku tidak memandang kebahagiaan itu dengan mengumpulkan harta,akan tetapi orang yang bertakwa itulah yang bahagia. Bertakwalah kepada Allah, karena itu sebaik-baik bekal yang disimpan, dan di sisi Allah ada tambahan (keutamaan) bagi orang-orang yang bertakwa.” [1]
Sebab terhalang dari kebahagiaan
Diantara sebab seseorang terhalang dari kebahagiaan adalah, ia mengikuti hawa nafsu dengan melakukan maksiat dan keburukan, berbuat dzolim kepada diri sendiri dan orang lain, itulah sebab kesengsaraan di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit,” (Qs. Toha: 124)
Al-Imam Ibnu Taimiyah rahimabullah berkata:
“Setiap keburukan di dunia ini khusus berkaitan dengan hamba; sebabnya adalah menyelisihi Rasul atau ketidaktahuan terhadap apa yang beliau bawa. Dan sesungguhnya kebahagiaan para hamba, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, adalah dengan mengikuti syariat yang beliau ﷺ bawa .”
Ketika seseorang sudah terjebak dalam lingkaran kesengsaraan maka tidak ada jalan lain untuk mendapatkan kebahagian kecuali dengan taubat dan kembali kepada Allah.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Pintu-pintu keburukan ditutup dengan taubat dan istighfar.”
Maka ketuklah pintu-pintu taubat dan tutuplah pintu-pintu maksiat agar engkau dapat merasakan manisnya kebahagiaan. Kesehatan hati itu terletak pada meninggalkan dosa-dosa, karena dosa bagi hati ibarat racun.
Jika dosa itu tidak membinasakannya, maka ia akan melemahkannya. Barang siapa berpindah dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan ketaatan, niscaya Allah akan mencukupkannya tanpa harta dan menjadikannya merasa tenteram tanpa membutuhkan teman. Dan orang yang sengsara adalah orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rabb-nya serta melakukan apa yang Allah haramkan. [2]
Sumber:
[1] Kitab Khuthuwât ilâ as-Sa‘âdah, hlm. 8.
[2] Kitab Khuthuwât ilâ as-Sa‘âdah, hlm. 11.