Ketika kita berbicara tentang tawakal maka dalam benak kita sudah bisa di pahami bahwa makna tawakal artinya seseorang menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah subahanhu wata’ala.

Kita bisa ambil contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu seorang ketika ia keluar dari rumahnya dalam keadaan menyerahkan urusannya kepada Allah, berpuasa dengan menyerahkan urusannya kepada Allah, dan sholat dengan menyerahkan urusannya kepada Allah. Ia bersandar hanya kepada Allah dalam menjalankan semua itu, bukan kepada dirinya sendiri, dan bukan pula kepada si fulan atau si alan lainnya.

Dengan menyerahkan segala urusannya kepada Allah agar Allah memberikan manfaat melalui sebab-sebab yang ia lakukan. Demikianlah, ia memohon pertolongan kepada Allah dalam seluruh urusannya dan bertawakal kepada-Nya, dengan tetap melakukan sebab-sebab, yaitu menempuh usaha-usaha yang telah Allah syariatkan dan perintahkan.

Dan perlu kita ketahui bersama bahwa tawakal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama. Allah mengaitkannya dengan ibadah sebagaimana dalam firman-Nya:

﴾فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ﴿

“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (Qs.Hud: 123)

Dan Allah menjadikannya sebagai sebab untuk meraih cinta-Nya:

﴾إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴿

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Qs.Ali Imran: 159)

Dalam tawakal terdapat keridoan Allah dan perlindungan dari godaan setan. Para rasul adalah teladan dalam bertawakal. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berkata:

﴾ئرَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ﴿

“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, kepada-Mu kami kembali, dan kepada-Mu lah tempat kembali.”(Qs.Al-Mumtahanah: 4)

Dan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam berkata:

﴾وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴿

“Tidak ada taufik bagiku kecuali dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.” (Qs.Hud: 88)

Siapa yang benar-benar merealisasikan tawakal, maka ia akan masuk surga tanpa hisab. Adapun urusan dunia dan perhiasannya, terkadang orang yang santai bisa mendapatkan apa yang tidak didapatkan oleh orang yang bersungguh-sungguh, dan orang yang lemah bisa memperoleh apa yang luput dari orang yang cerdas. Tidak ada yang bisa mendahului ketentuan itu kecuali dengan tawakal kepada Allah.

Ketika Imam Ahmad ditanya tentang tawakal, beliau berkata:

«هو قطع الاستشراف باليأس من الخلق»

“Tawakal adalah memutuskan ketergantungan harapan dari makhluk.”

Bergantung semata pada sebab-sebab tidak akan cukup untuk meraih apa yang diinginkan.

Melakukan sebab tidak bertentangan dengan tawakal

  • Memperhatikan sebab secara berlebihan hingga bergantung kepada sebab adalah kekurangan dalam tauhid.
  • Menghilangkan sebab sama sekali adalah kekurangan dalam akal.
  • Dan meninggalkan sebab yang diperintahkan adalah bentuk penyelisihan terhadap syariat.

Seorang hamba harus menjadikan hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada sebab. Oleh karena itu Hakikat tawakal adalah seseorang melakukan sebab-sebab, namun hati tetap bersandar kepada Allah sebagai Dzat yang menentukannya. Ia meyakini bahwa semua sebab berada di tangan-Nya:

  • Jika Allah menghendaki, Dia bisa menahan hasil dari sebab tersebut.
  • Jika Allah menghendaki, Allah bisa menjadikan sesuatu yang menghasilkan dari sebab itu
  • Dan jika Allah menghendaki, Allah bisa menghalangi sebab itu dengan berbagai penghalang.

Orang yang bertauhid dan bertawakal tidak bergantung pada sebab, tidak pula meninggalkannya. Ia tetap menjalankan sebab, namun hatinya tertuju kepada Allah yang mengatur semuanya. Seberapa baik prasangka dan harapanmu kepada Allah, sebesar itu pula tawakalmu kepada-Nya. Dan tawakal yang sejati tidak bertentangan dengan usaha dalam menempuh sebab-sebab yang telah Allah tetapkan.

Ada Apa dengan tawakal?

Dalam tawakal terdapat ketenangan hati, dan perlindungan dari tipu daya orang-orang jahat. Tawakal termasuk sebab paling kuat yang dengannya seorang hamba mampu menolak berbagai gangguan dan kezaliman manusia yang sebenarnya tidak sanggup ia hadapi. Serta dengan tawakal, jiwa menjadi tidak bergantung pada apa yang ada di tangan manusia.

Berkata salah seorang ulama:

«وَمَا رَجَا أَحَدٌ مَخْلُوقًا أَوْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ إِلَّا خَابَ ظَنُّهُ فِيهِ»

“Tidaklah seseorang berharap kepada makhluk atau bertawakal kepadanya, kecuali pasti harapannya akan kecewa.”

Bukti nyata dari Al-Quran tentang tawakal

Barang siapa menyerahkan urusannya kepada Rabb-nya, ia akan mendapatkan apa yang ia cita-citakan. Nabi Zakaria ‘alaihissalam telah mencapai usia sangat tua, namun Allah tetap menganugerahkan kepadanya seorang anak yang mulia:

﴾يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ﴿

“Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak.” (QS. Maryam: 7)

Demikian pula Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi kabar gembira dengan seorang anak, sementara istrinya berkata dalam keadaan heran:

﴾قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ ءَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ﴿

“Dia berkata: “Sungguh mengherankan! Apakah aku akan melahirkan, padahal aku seorang wanita tua, dan suamiku ini sudah lanjut usia? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan.” (QS. Hud: 72)

Nabi Ibrahim juga pernah meninggalkan Hajar dan putranya Ismail di lembah yang tidak memiliki tanaman dan air, namun Allah menjaganya hingga Ismail menjadi nabi yang mulia:

﴾وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ﴿

“Dan dia (Ismail) menyuruh keluarganya untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” (QS. Maryam: 55)

Dan Nabi Yunus ‘alaihissalam tidak disia-siakan ketika berada dalam kesulitan, bahkan Allah menyelamatkannya dengan doa tawakal:

﴾لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ﴿

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

«لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى لَا تُرِيدَ مِنْهُمْ شَيْئًا لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلَّ مَا تُرِيدُ»

“Seandainya engkau berputus asa dari (bergantung kepada) manusia hingga tidak menginginkan apa pun dari mereka, niscaya Tuhanmu akan memberimu segala yang engkau inginkan.”

Sumber:

Kitab Khuttuwatu ilā As-Sa‘ādah, karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 15–19.