Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa surga hanya diberikan kepada mereka yang tidak mencampuradukkan antara keimanan dan kesyirikan. Keburukan yang paling besar adalah menyekutukan Allah dalam ibadah (syirik), sedangkan kebaikan yang paling agung adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tujuan dalam ibadah. Keduanya tidak dapat dipadukan. Jika seseorang mencampuradukkan tauhid dengan kesyirikan, maka harapan untuk masuk surga hanyalah angan-angan belaka.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, yaitu kesyirikan, berhak mendapatkan keamanan. Keamanan tersebut meliputi keamanan di dunia dan di akhirat. Di dunia, mereka akan senantiasa diberi petunjuk untuk menempuh jalan kebaikan sesuai dengan tuntunan ilmu. Adapun di akhirat, mereka akan memperoleh jaminan masuk surga.
Lalu, siapakah mereka?
- Orang-orang yang memurnikan ibadahnya kepada Allah dan tidak mencampurinya dengan kesyirikan maupun kemaksiatan. Mereka inilah yang memperoleh keamanan secara sempurna dan mutlak di dunia serta di akhirat.
- Orang-orang yang memurnikan ibadahnya dari kesyirikan, tetapi masih memiliki dosa-dosa selain syirik.Mereka tetap mendapatkan jaminan keamanan di akhirat, yaitu tidak kekal di dalam neraka. Jika mereka masuk neraka karena dosa-dosanya, maka pada akhirnya mereka akan dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat Allah.
Jaminan Surga bagi Siapa Pun yang Merealisasikan Tauhid dengan Benar
Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan kepada kita bahwa siapa pun yang merealisasikan tauhid dengan benar, maka ia akan mendapatkan jaminan surga. Hal ini diterangkan dalam sabda beliau:
Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرُسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.
“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; dan bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya; dan bahwa surga itu benar dan neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang ia miliki.” (HR. Al-Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28).
Hadis di atas mengabarkan kepada kita bahwa barang siapa bersaksi dengan dua kalimat syahadat, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Akan tetapi, banyak di antara kita yang tidak mengetahui bahwa manfaat dua kalimat syahadat tersebut baru akan diperoleh apabila seseorang merealisasikannya dengan benar. Ia harus mengucapkannya dengan lisan, meyakininya dengan hati, dan mengamalkannya dengan anggota badan.
Apabila ketiga unsur tersebut terpenuhi, barulah ia berhak mendapatkan jaminan surga. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sabda Nabi ﷺ bahwa iman mencakup ucapan, keyakinan, dan amal:
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh’, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim).
Hadis ini mencakup:
- Ucapan lisan: Lā ilāha illallāh.
- Amal anggota badan: menyingkirkan gangguan dari jalan.
- Amal hati: rasa malu.
Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya mengucapkan syahadat dengan lisannya saja, tetapi ia juga harus meyakininya dalam hati dan mengamalkan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah hakikat merealisasikan tauhid yang menjadi sebab seseorang memperoleh jaminan surga dari Allah Ta’ala.
Dua Kalimat yang Dapat Memberatkan Timbangan Kebaikan
Timbangan kebaikan adalah sesuatu yang sangat kita butuhkan pada hari akhir. Dengannya, peluang seseorang untuk masuk surga akan semakin besar. Di antara amalan yang paling berat dalam timbangan adalah kalimat Lā ilāha illallāh. Kalimat ini ringan diucapkan oleh lisan, tetapi banyak diremehkan oleh manusia.
Padahal, apabila diucapkan dengan penuh keikhlasan dan direalisasikan konsekuensinya, kalimat tersebut lebih berat daripada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ’anhu tentang Nabi Musa ’alaihissalam yang meminta diajarkan suatu kalimat untuk berzikir dan berdoa kepada Allah. Nabi ﷺ bersabda:
قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ. قَالَ: قُلْ يَا مُوسَى: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. قَالَ: يَا رَبِّ، كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا. قَالَ: يَا مُوسَى، لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي، وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ، مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
“Musa ’alaihissalam berkata, ‘Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk berzikir dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, ucapkanlah: Lā ilāha illallāh.’ Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya tujuh langit dan seluruh penghuninya selain Aku, serta tujuh bumi diletakkan pada satu daun timbangan, sedangkan Lā ilāha illallāh diletakkan pada daun timbangan yang lain, niscaya kalimat Lā ilāha illallāh lebih berat daripada semuanya.’”
(HR. Ibnu Hibban; dinilai sahih oleh Al-Hakim dan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 134).
Hadis ini menunjukkan agungnya kedudukan kalimat tauhid dan besarnya keutamaannya di sisi Allah. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga kalimat Lā ilāha illallāh, memahami maknanya, mengamalkan konsekuensinya, serta memperbanyak mengucapkannya dengan penuh keikhlasan agar menjadi amalan yang memberatkan timbangan kebaikannya pada hari kiamat.
Sumber:
Kitab Qurratu ‘Uyūn al-Muwaḥḥidīn fī Taḥqīqi Da’wati al-Anbiyā’ wa al-Mursalīn, hlm.49 karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah