Sebagai manusia biasa, sering kali kita merasa minder terhadap cita-cita mulia ini, yaitu berkata dengan penuh keyakinan, “Aku bisa masuk surga tanpa hisab.” Maksudnya, masuk surga tanpa didahului rasa khawatir dan ketakutan, serta berjalan dengan tenang tanpa beban, sebagaimana seseorang yang mendapatkan privilege dalam sebuah antrean sehingga dia bisa masuk dengan mudah tanpa harus capek-capek berbaris.
Namun, percayalah bahwa kita berhak mendapatkan keistimewaan tersebut, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Meski demikian, hati dan nurani kita tetap memahami bahwa pasti ada sesuatu yang harus dibayar untuk meraihnya. Sebagaimana ungkapan yang terkenal di kalangan manusia bahwa “Tidak ada makan siang gratis.” Artinya, keistimewaan itu dapat diraih oleh siapa saja yang memenuhi syarat-syarat sebagai orang yang berhak menerimanya. Adapun syarat yang harus dipenuhi adalah:
Terbebas dari Perbuatan Syirik
Seseorang tidak boleh melakukan kesyirikan dan tidak boleh meninggal dunia dalam keadaan membawa dosa tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami makna syirik. Syirik adalah perbuatan menjadikan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan-Nya. Apabila seseorang terjatuh ke dalam perbuatan tersebut, maka cita-cita mulia itu menjadi sangat mustahil untuk diraih.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah (berbuat syirik), maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah: 72)
Lalu, bagaimana cara agar kita dapat meraih cita-cita tersebut, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab? Salah satu caranya adalah dengan mengikuti jejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam serta meneladani sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (teladan) yang dapat dijadikan panutan, lagi patuh kepada Allah dan hanif (cenderung kepada tauhid), dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 120)
Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam disifati dengan lima sifat. Kelima sifat tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang keteladanan beliau sebagai seorang utusan Allah. Sifat-sifat itu antara lain:
- Ummah, yang dapat bermakna imam, teladan, atau panutan dalam kebaikan.
- Qānitan lillāh, yang bermakna bahwa beliau adalah seorang hamba yang sangat taat kepada Allah Ta’ala.
- Hanīf, yaitu beliau benar-benar menyerahkan hati dan dirinya kepada Allah serta berpaling dari segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Oleh karena itu, istilah millah secara khusus hanya disandarkan kepada Nabi Ibrahim ’alaihissalam karena kesempurnaan tauhid yang beliau miliki.
- Wa lam yaku minal musyrikīn, yang bermakna bahwa beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan dan paling menjauhkan diri dari orang-orang yang menyekutukan Allah Ta’ala. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu tidak memberikan loyalitas kepada orang-orang musyrik.
- Syākiran li an’umih, yaitu beliau merupakan orang yang sangat bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Beliau tidak pernah melupakan berbagai nikmat yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya.
Oleh karena itu, jika kita ingin masuk surga, tentu ada sesuatu yang mahal yang harus kita korbankan. Sesungguhnya barang dagangan Allah sangatlah mahal, dan jalan menuju surga tidaklah bertabur bunga.
Apabila kita benar-benar menginginkan masuk ke dalam surga tanpa azab, maka kita harus menjadi hamba yang taat kepada Allah, memurnikan seluruh ibadah hanya untuk-Nya, menjauhi segala bentuk kesyirikan dan para pelakunya, serta menjadi orang yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah karuniakan.
Mereka yang Tidak Meminta Diruqyah
Kita sama-sama mengetahui bahwa ruqyah merupakan salah satu bentuk pengobatan yang disyariatkan dalam Islam. Lalu, mengapa dalam pembahasan ini Nabi ﷺ justru menyebutkan bahwa di antara ciri orang-orang yang masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang tidak meminta untuk diruqyah? karena di dalamnya terdapat unsur meminta kepada manusia. Sementara meminta kepada manusia mengandung bentuk kerendahan diri. Oleh karena itu, selama seseorang masih mampu untuk tidak bergantung kepada manusia, maka hal itu lebih dianjurkan. Sebagaimana sabda beliau ﷺ:
هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ»
“Inilah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.’”
Beliau kemudian menjelaskan sifat mereka:
“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan kay (besi panas), tidak melakukan tathayyur (anggapan sial), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.”
Lalu, bagaimana kita memahami hadis ini agar tidak menimbulkan kebingungan? Sebab, mungkin di antara kita ada yang pernah meminta diruqyah.
Para ulama telah menjelaskan persoalan ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa hadis tersebut secara lahiriah menunjukkan adanya pembatasan, yaitu seakan-akan ruqyah hanya boleh dilakukan untuk dua perkara tersebut. Padahal, terdapat dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa ruqyah juga bermanfaat dan disyariatkan untuk berbagai macam penyakit.
Lantas, bagaimana cara mengompromikan kedua dalil tersebut sehingga tidak tampak bertentangan? Hal inilah yang kemudian dijelaskan oleh para ulama dalam syarah-syarah hadis
Jawabannya, ada dua kemungkinan:
- Dikatakan bahwa sabda “Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit mata (’ain) dan sengatan (ḥumah)” berlaku pada awal Islam. Kemudian setelah itu diberikan keringanan untuk melakukan ruqyah terhadap seluruh penyakit.
- Hadis tersebut dipahami sebagai penjelasan tentang yang paling sempurna dan paling utama. Maksudnya, tidak ada ruqyah yang lebih baik dan lebih sempurna daripada ruqyah untuk penyakit ’ain dan sengatan. Hal ini tidak menafikan adanya ruqyah untuk penyakit-penyakit lainnya.
Artinya, ruqyah yang paling bermanfaat dan paling baik adalah ruqyah untuk dua jenis penyakit tersebut. Oleh karena itu, pembatasan dalam hadis ini adalah pembatasan relatif (ḥaṣr iḍāfī), bukan pembatasan hakiki (ḥaṣr ḥaqīqī).[1]
Tidak Pernah Melakukan Kay (Pengobatan dengan Besi Panas)
Kay (al-kayy) adalah metode pengobatan yang telah dikenal sejak zaman dahulu, yaitu dengan membakar bagian tubuh tertentu menggunakan besi panas untuk mengobati suatu penyakit.
Adapun yang dimaksud dalam hadis tentang syarat masuk surga tanpa hisab bukanlah larangan mutlak terhadap pengobatan dengan kay. Sebab, pengobatan ini pada asalnya dibolehkan ketika diperlukan. Yang tercela adalah praktik kay yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah sebagai bentuk pencegahan sebelum seseorang sakit. Mereka meyakini bahwa dengan melakukan kay saat masih sehat, seseorang akan terhindar dari berbagai macam penyakit.
Keyakinan semacam ini termasuk bentuk ketergantungan kepada sebab yang tidak dibenarkan oleh syariat dan dapat menyeret kepada perbuatan syirik. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menutup penyebutan sifat mereka dengan sabdanya:
وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal.” [2]
Hal ini menunjukkan bahwa mereka menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah, tidak bergantung kepada sebab-sebab yang menyelisihi syariat, serta meyakini bahwa manfaat dan mudarat seluruhnya berada di tangan-Nya.
Tidak Melakukan Tathayyur (Anggapan Sial)
Tathayyur adalah perbuatan mengaitkan nasib sial dengan sesuatu yang didengar, dilihat, atau dikaitkan dengan angka tertentu, hari-hari tertentu, maupun benda-benda tertentu.[3] Contohnya adalah anggapan, “Kamu tidak bisa menikah karena perhitungan weton tidak cocok. Nanti pernikahanmu akan berakhir dengan perceraian.” Padahal, dalam Islam tidak ada keyakinan semacam itu.
Anggapan-anggapan sial seperti ini termasuk dalam kategori perbuatan syirik. Syirik merupakan salah satu penghalang seseorang untuk meraih keutamaan masuk surga tanpa hisab. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:
لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan pengobatan dengan kay (besi panas), tidak melakukan tathayyur (menganggap sial karena suatu pertanda), dan hanya kepada Rabb mereka mereka bertawakal.”
Demikianlah beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh seseorang yang ingin meraih keutamaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Surga adalah kenikmatan yang sangat agung dan mahal nilainya, sehingga tidak dapat diraih kecuali dengan pengorbanan, kesungguhan dalam menaati Allah, serta menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang oleh syariat.
Semoga penjelasan di atas mudah dipahami dan memberikan manfaat, baik bagi penulis maupun para pembaca. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dan mengistiqamahkan kita di atas jalan yang benar. Aamiin.
Sumber: