Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk memperoleh pahala semata. Akan tetapi Ia adalah sumber petunjuk, penyejuk hati, dan sahabat terbaik bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin besar pula kebaikan yang akan ia dapatkan. Tidaklah seorang hamba melazimi dirinya bersama Al-Qur’an, melainkan Allah akan membukakan baginya pintu-pintu kebaikan.
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam sangat menganjurkan umatnya untuk senantiasa membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Di antara buah manis yang dapat dipetik oleh seorang Muslim dari kebiasaan membaca Al-Qur’an adalah memperoleh syafaat pada hari kiamat, meraih derajat yang tinggi di surga, serta mendapatkan ketenangan, rahmat, dan keberkahan dalam kehidupannya.
Pada artikel ini, kita akan mengulas beberapa buah manis yang Allah janjikan bagi orang-orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an.
Pertama: Menambah keimanan
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam surah Al-anfal ayat 2-4
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (الأنفال: 2-4)
(2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (3) (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (4) Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.
Kedua: Mendapatkan syafaat Al-Qur’an di hari kiamat
Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
….اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya (orang yang selalu bersamanya)….” (HR. Muslim no. 804)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam juga bersabda:
اَلصِّيَامُ وَالقُرآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبدِ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ ! إِنِّي مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ والشَّهَوَاتِ بالنهارِ، فشَفِّعْنِي فيه، ويقولُ القرآنُ : مَنَعْتُهُ النومَ بالليلِ، فشَفِّعْنِي فيه ؛ فيَشْفَعَانِ
“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.’ Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.’ Maka keduanya pun diberi izin untuk memberi syafaat.” (HR. Ahmad no. 6626, Ibnu al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd (2/114), ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir 14/72 no. 14672, al-Hakim no. 2036, dan ad-Dailami dalam Al-Firdaus no. 3815, dengan sedikit perbedaan lafaz)
Ketiga: Mendapatkan ketenangan hati, ketenteraman, dan diliputi rahmat Allah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi rahmat, dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)
Keempat: Mendapatkan Kedudukan yang tinggi di surga
Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
“Akan dikatakan kepada sahabat Al-Qur’an: ‘Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.'” (HR. Abu Dawud no. 1464, At-Tirmidzi no. 2914, An-Nasa’i di dalam kitab As-Sunan Al-Kabir no. 8056, dan Imam Ahmad no. 6799)
Referensi:
- Mausu’ah Al-Adabiyah As-Syar’iyah
- Al-Mausu’ah Al-Haditsiyah