Diantara sifat yang agung dan akhlak yang mulia yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang yang berpuasa adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap saudara-saudara seiman. Di dalam hati mereka tidak ada kedengkian, iri hati, atau kebencian. Pada lisan mereka tidak ada ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, ataupun mencela. Bahkan, hati mereka tidak menyimpan kecuali cinta, kebaikan, kasih sayang, kelembutan, dan penghormatan. Dan yang terucap dari lisan mereka hanyalah kata-kata yang bermanfaat, ucapan yang berguna, serta doa-doa yang tulus.

Mereka termasuk golongan orang-orang yang Allah puji dan sucikan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) berkata: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Juga didalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan selainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَيسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكلِ وَالشُّربِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغوِ وَالرَّفَثِ، فَإِن سَابَّكَ أَحَدٌ، وَجَهِلَ عَلَيكَ فَقُل: إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa itu bukan (sekadar) menahan diri dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan ucapan keji. Jika seseorang mencelamu atau berbuat bodoh terhadapmu, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Ramadhan adalah kesempatan emas dan anugerah Ilahi agar hati dan lisan bersih dari segala kotoran dan penyakit. Maka bukanlah hakikat (tujuan) dari puasa sekadar menahan diri dari makan dan minum, sementara hatimu tidak berpuasa dari kedengkian, iri, dan kebencian terhadap hamba-hamba Allah; atau lisanmu tidak berpuasa dari ghibah, adu domba, kecurangan, dusta, celaan, dan makian. Karena orang yang demikian itu, tidaklah ia mendapatkan dari puasanya selain lapar dan dahaga. Seabagaimana dalam sebuah hadits disebutkan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِن صِيَامِهِ الجُوعُ وَالعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِن قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga. Dan betapa banyak orang yang bangun (shalat malam), namun yang ia dapatkan dari qiyamnya hanyalah begadang.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ kepada Nabi ﷺ.)

Dan sebab terbesar dari bersihnya hati serta lisan orang-orang shaleh adalah kuatnya hubungan mereka dengan Allah dan besarnya keridhoan mereka kepada-Nya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Keridhoan akan membukakan baginya pintu keselamatan; sehingga menjadikan hatinya bersih dan suci dari kecurangan, tipu daya, dan kedengkian. Tidak ada yang selamat dari azab Allah kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Mustahil hati menjadi bersih apabila dipenuhi kemarahan dan tidak ridha. Semakin besar keridhoan seorang hamba, semakin selamat pula hatinya. Keburukan, tipu daya, dan kecurangan adalah teman dari sikap tidak ridha. Adapun keselamatan hati, kebaikannya, dan ketulusannya adalah teman dari keridhaan. Demikian pula hasad termasuk buah dari ketidakridhaan, sedangkan bersihnya hati darinya termasuk buah dari keridhaan.”

Buah dari keselamatan hati yang merupakan salah satu buah dari keridhoan tidak terhitung dan tidak terbatas. Kelapangan dada adalah ketenangan di dunia, Adapun pahalanya di akhirat termasuk sebaik-baik pahala, dan keuntungannya saat itu adalah sebesar-besar keuntungan.

Mari kita manfaatkan bulan yang penuh berkah ini untuk mengobati penyakit hati dan lisan, serta bersungguh-sungguh lah menjaga kebersihan dan keselamatannya. Karena dengan selamatnya hati dan lisan, maka selamat pula diri seseorang, agamanya, dan dunianya. Namun jika keduanya rusak, maka rusak pula agama dan dunianya.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan doa yang agung, dibaca pada pagi, petang, dan ketika hendak tidur. Dalam doa itu, seorang hamba berlindung kepada Allah dari dua sumber keburukan (jiwa dan setan) serta dari dua akibat buruk yang ditimbulkannya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:

“Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku beberapa kalimat yang dapat aku ucapkan ketika pagi dan petang.”

Beliau bersabda:

اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Tuhan segala sesuatu dan Pemiliknya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, dari kejahatan setan dan kesyirikannya, serta dari perbuatan buruk yang aku lakukan terhadap diriku atau yang aku seret kepada seorang Muslim.”

Dan kita bisa berdo’a juga dengan do’a:

اللهم إنا نسألك قلوبًا خاشعة، وألسنةً ذاكرة، ونفوسًا طائعةً مطمئنة، ونعوذ بك اللهم من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، ونعوذ بك من شر الشيطان وشركه، وأن نقترف على أنفسنا سوءًا أو نجرَّه إلى أحدٍ من المسلمين

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati yang khusyuk, lisan yang senantiasa berzikir, dan jiwa yang taat lagi tenteram. Kami berlindung kepada-Mu, ya Allah, dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan amal-amal kami. Kami juga berlindung kepada-Mu dari kejahatan setan dan kesyirikannya, serta dari perbuatan buruk yang kami lakukan terhadap diri kami sendiri atau yang kami seret kepada salah seorang dari kaum Muslimin.”

Sumber:

Diterjemahkan dari kitab Maqolat Romadhoniyah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah, dengan sedikit perubahan.