Kedudukan Ilmu

Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah sekadar aktivitas intelektual untuk memperluas wawasan atau mengumpulkan hafalan, karena setiap lembaran yang dibaca, ilmu yang ditulis, serta ayat dan hadis yang dihafal, semua bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Ilmu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan kedudukannya disejajarkan dengan jihad di jalan Allah ﷻ. Sebagaimana firman Allah ﷻ :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122).

Keagungan menuntut ilmu juga ditegaskan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Beliau pernah menyatakan:

العِلمُ لا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ

 “Ilmu itu tidak ada tandingannya bagi siapa saja yang niatnya benar.”12

Namun, di balik keutamaannya yang banyak, ilmu menyimpan tanggung jawab yang besar. Kedudukan tinggi tersebut bisa berubah menjadi musibah tatkala ilmu hanya berhenti sebagai teori, tidak membuahkan amalan, tidak menambah rasa takut (khasyah) kepada Allah ﷻ, dan tidak mengubah pribadi seseorang menjadi lebih baik.

Pedang Bermata Dua: Menolong atau Menuntut?

Ilmu pada hakikatnya laksana pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mampu mengangkat derajat seorang hamba menuju kedudukan mulia di dunia dan akhirat. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi penyebab seseorang tersungkur di neraka.

Secara ringkas, dampak ilmu terhadap pemiliknya terbagi menjadi dua:

  • Pelembut hati atau pengeras hati: Ilmu yang diiringi keikhlasan dan pengamalan akan melahirkan rasa takut kepada Allah ﷻ. Sebaliknya, ilmu yang ditumpuk tanpa amalan hanya akan membuat hati kian keras dan condong pada kesombongan.
  • Hujjah yang menolong atau hujjah yang menuntut: Di hadapan Allah ﷻ kelak, ilmu bisa menjadi hujjatun lak (pembela yang menyelamatkan) atau justru hujjatun ‘alaik (penuntut yang memberatkan).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengingatkan bahwa hakikat ilmu terletak pada kemanfaatannya dalam tindakan nyata:

لَيْسَ العِلْمُ مَا حُفِظَ، إِنَّمَا العِلْمُ مَا نَفَعَ

“Ilmu bukanlah apa yang sekadar dihafal, melainkan ilmu itu adalah apa yang membawa manfaat.”3

Peringatan Bahaya Mengabaikan Amal

Mengapa meninggalkan pengamalan ilmu begitu berbahaya? Para ulama telah memberikan peringatan keras mengenai hal ini.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang yang berilmu namun enggan mengamalkan ilmunya berada pada posisi yang sangat riskan:

“Wajib atas seseorang—setiap kali ia mengetahui keutamaan suatu amalan atau ibadah—untuk segera melaksanakannya. Jika ia tidak melakukannya, maka ia dan orang bodoh (jahil) sama saja. Bahkan, bisa jadi orang jahil lebih baik darinya. Sebab, orang yang berilmu meninggalkan amalan tersebut secara sengaja, sedangkan orang jahil akan mengambil manfaat tatkala ia baru mengetahuinya.”

Bahkan dalam Matan Az-Zubad karya Ibn Raslan, disebutkan ancaman fatal bagi penuntut ilmu yang menelantarkan amalnya:

وَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ … مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الْوَثَنْ

“Dan seorang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, akan diazab sebelum para penyembah berhala.”45

Seseorang yang enggan mengamalkan ilmunya tidak hanya diancam dengan dosa di akhirat, tetapi juga akan memetik dampak buruk di dunia, di antaranya:

  1. Kegagalan dan hilangnya keberkahan ilmu.
  2. Kelupaan (an-nisyan), baik lupa secara hafalan/pemikiran (ad-dzihni) maupun lupa dalam bentuk meninggalkan amalan (al-‘amali).

Hal ini selaras dengan teguran Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“Maka karena mereka melanggar janjinya, Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 13).

Sebaliknya, barang siapa yang bersegera mengamalkan ilmu yang sampai kepadanya, Allah ﷻ akan menganugerahkan dua hadiah besar: tambahan petunjuk dan ilmu baru yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17).

Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah merangkum hubungan erat antara ilmu dan amal dalam sebuah ungkapan yang sangat indah:

الْعِلْمُ يَهْتِفَ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ أَجَابَهُ، وَإِلَّا ارْتَحَلَ

“Ilmu itu memanggil amal. Jika amal menyambutnya (ia akan menetap), namun jika tidak, ilmu itu akan pergi.”6

Setelah kita mengetahui akibat buruk dari meninggalkan pengamalan, maka hendaknya semangat kita dalam mengamalkan ilmu bertambah. Salah satu cara untuk membentengi diri kita agar bisa terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat yaitu dengan mengamalkan doa yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ، مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

Allāhumma innī a‘ūżu bika minal-arba‘i: min ‘ilmin lā yanfa‘u, wa min qalbin lā yakhsya‘u, wa min nafsin lā tasyba‘u, wa min du‘ā’in lā yusma‘u.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara: dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud No. 1548).

Dan berdoa meminta ilmu yang bermanfaat dengan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ :

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا

Allāhummanfa‘nī bimā ‘allamtanī, wa ‘allimnī mā yanfa‘unī, wa zidnī ‘ilmā.

“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah aku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi No. 3599).

Semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dimudahkan dalam beramal.

والله أعلم وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Yuk, baca artikel kami lainnya: Mengenal dan Meneladani Para Tamu Islam: Ahlus Suffah

Catatan Kaki:

  1. Ibn Muflih, Al-Ādāb asy-Syar’iyyah, (Alamul Kutub, 1431 H), Juz 2, hlm. 37 ↩︎
  2. Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, Syarḥ Ḥilyah Ṭālib al-’Ilm, (Al Qasim: Muassasah as-Syaikh Muhammad Bin Sholeh al-Utsaimin al-Khoiriyyah, 1445 H), hlm. 15. ↩︎
  3. Al-Baihaqi, Manāqib asy-Syāfi’ī, (Kairo: Maktabah Darut Turats, 1390 H/1970 M), Juz 2, hlm. 149. ↩︎
  4. Ibn Raslān, Matn az-Zubad, (Beirut: Darul Ma’rifah, 1431 H), hlm. 4. ↩︎
  5. Al-’Utsaimin, Syarḥ Ḥilyah Ṭālib al-’Ilm, hlm. 33. ↩︎
  6. Ibnu ‘Abdi al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, (Arab Saudi: Dar Ibn al-Jauzi, 1414 H/1994 M), Juz 1, hlm. 706, no. 1274. ↩︎

Referensi:

Al Utsaimin, Muhammad bin Sholeh (1445 H). Syarḥ Ḥilyah Ṭālib al-’Ilm. Al Qasim: Muassasaha as-Syaikh Muhammad Bin Sholeh al-Utsaimin al-Khoiriyyah.

Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain (1390 H/1970 M). Manāqib asy-Syāfi’ī. Kairo: Maktabah Darut Turats.

Ibn ‘Abd al-Barr, Abu ‘Umar Yusuf (1414 H/1994 M). Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih. Arab Saudi: Dar Ibn al-Jauzi.

Selesai, Alhamdulillah

5 Oktober 2025 M/23 Rabiul Akhir 1448 H, di Madinah

Abirus Sabil

Artikel Riwayah.org