Seseorang terkadang merasa baik-baik saja ketika ia berbuat dosa. Ia merasa istri dan anak-anaknya tetap mencintainya, kondisi ekonominya tetap aman, tubuhnya tetap sehat, dan berbagai kenikmatan tersebut masih terus ia rasakan.
Seakan-akan jiwanya berkata, “Ternyata, setelah berbuat dosa, semuanya tetap baik-baik saja. Tidak ada rasa sakit yang aku rasakan, tidak ada kehormatan yang runtuh, bahkan jabatan semakin tinggi.”
“Bukankah Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya?”
Hasan Al-Bashri menjelaskan keadaan orang-orang munafik:
والمنافقُ جَمَعَ إساءةً وأمنًا
“…Orang munafik menggabungkan antara berbuat keburukan dan merasa aman.”
Mengapa keadaan sebagian manusia demikian? Karena ia tidak diberi petunjuk oleh Allah kepada kebenaran.
Ia sedang terlena dan tidak menyadari bahwa azab neraka jauh lebih mengerikan dan lebih kekal. Ia juga tidak mengetahui bahwa di dalam jasad manusia terdapat hati. Jika hati itu baik, maka baiklah seluruh amalnya. Namun, jika hati itu buruk, maka buruk pula seluruh amalnya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)
Oleh karena itu, ketika seseorang berbuat dosa, maka yang pertama kali rusak adalah hatinya. Jika hati telah rusak, ia akan menimbang segala sesuatu berdasarkan hawa nafsunya.
Akibatnya, ia tidak mampu lagi membedakan mana kebenaran dan mana keburukan. Baginya, patokan kebenaran adalah kenyamanan hidup di dunia. Selama hidupnya terasa aman dan damai, ia menganggap bahwa dirinya tidak sedang mendapatkan azab.
Allah Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan tentang ayat di atas:
“Dalam ayat-ayat ini terdapat peringatan dari berbagai dosa, karena dosa dapat menutupi hati sedikit demi sedikit hingga cahaya hati padam dan pandangan hati mati. Inilah yang akan memutarbalikkan kebenaran pada diri seseorang, sehingga kebatilan dalam pandangannya menjadi kebenaran dan kebenaran dalam pandangannya menjadi kebatilan. Dan inilah salah satu hukuman dosa yang terbesar.”
Maka, jangan pernah merasa aman dari hukuman Allah. Jangan merasa bahwa setelah berbuat dosa, semuanya selesai. Demi Allah, tidak sesederhana itu.
Jika yang menjadi tolok ukurnya adalah kenyamanan hidup yang terus berlanjut, sungguh, Anda sedang berada dalam keadaan tertipu.
Sudah menjadi ketetapan bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi yang akan diterima. Tidak mungkin tidak ada akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Sumber:
- Mujibāt Lin-Najāh, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.
- Al-Qur’an Tadabbur, Ustadz Dr. Firanda Andirja; Tafsir As-Sa’di.