Di antara kemuliaan agama Islam adalah bahwa Islam merupakan agama yang lurus, atau dalam bahasa Arab disebut al-ḥanīf. Inilah satu-satunya agama yang diterima disisi Allah Ta’ala, yaitu agama yang memerintahkan para pemeluknya untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang paling berhak untuk diibadahi dengan benar, serta menjauhi segala bentuk peribadatan selain kepada-Nya. Di antara keindahan Islam pula adalah bahwa Islam merupakan agama yang sangat mudah, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ.

Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya melainkan ia akan dikalahkan. Oleh karena itu, berlaku luruslah, bersikaplah sederhana (tidak melampaui batas), bergembiralah (karena memperoleh pahala), dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan beribadah pada waktu pagi, petang, dan sebagian malam.”(HR. Al-Bukhari)

Allah tidak menjadikan Islam sebagai agama yang sulit. Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, dan hal ini hanya terdapat dalam agama Islam. Allah menjadikan Islam sebagai agama yang penuh keistimewaan, kemuliaan, dan keagungan. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi dan Nasrani mendengki kaum Muslimin atas keutamaan ini. Tidaklah mereka mendengki kaum Muslimin terhadap sesuatu pun sebagaimana kedengkian mereka terhadap kaum Muslimin dalam perkara ini.

Di antara keutamaan Islam juga adalah keutamaan hari Jumat, serta penegasan bahwa hari tersebut merupakan seutama-utama hari di sisi Allah Ta‘ala. Allah memilihkan hari Jumat bagi kaum Muslimin berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya. Hari ini Allah khususkan bagi kaum Muslimin, dan darinya Allah menyesatkan orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Adapun orang-orang Yahudi, mereka memilih hari Sabtu. Mereka berkata menurut anggapan mereka bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah beristirahat setelah letih menciptakan langit dan bumi. Mereka mengklaim bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dimulai pada hari Ahad dan berakhir pada hari Jumat, kemudian pada hari Sabtu Allah beristirahat dan meluangkan waktu. Oleh sebab itu, mereka menjadikan hari Sabtu sebagai hari ibadah mereka.Padahal, mereka telah berdusta atas nama Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan Kami tidak ditimpa oleh keletihan sedikit pun.”(QS. Qāf: 38)

Adapun orang-orang Nasrani, mereka memilih hari Ahad. Mereka berkata bahwa hari tersebut adalah hari pertama Allah memulai penciptaan, yaitu hari pertama dari enam hari penciptaan. Oleh karena itu, mereka memilihnya dengan alasan tersebut. Sebagaimana hadits yang datang dari Abu Hurairoh, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَضَلَّ اللّهَ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا ؛ فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ، وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ، فَجَاءَ اللهَ بِنَا فَهَدَانَا اللّهَ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ، فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَالْأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعُ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ الْأخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ المُقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ .

“Allah telah memalingkan dari (hari) Jumat orang-orang sebelum kita. Maka bagi orang-orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan bagi orang-orang Nasrani adalah hari Ahad. Lalu Allah mendatangkan kita dan memberi kita petunjuk kepada hari Jumat. Maka Allah menjadikan (urutan hari ibadah) Jumat, Sabtu, dan Ahad. Demikian pula, mereka (umat-umat terdahulu) akan mengikuti kita pada hari Kiamat. Kita adalah umat yang terakhir di dunia, namun yang pertama pada hari Kiamat, yang diputuskan (perkaranya) sebelum seluruh makhluk.”(HR.Muslim)

Referensi:

  • Al-Qur’an Al-Karim
  • Jaami’ Kitub Tis’ah
  • Syarah Risalah Fadhlul Islam Syaikh Sholeh Al-Fauzan
  • Syarah Syaikh Maher bin Abdurrahim Al-Khoujah hafidzahullah