Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya mengapa harus memilih Islam sebagai agama. Hal ini karena kita perlu mengetahui bahwa Islam adalah agama yang paling mulia, memiliki banyak keutamaan, dan tidak ada alasan bagi orang yang berakal yang mendambakan kebahagiaan serta kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat untuk tidak memilih Islam sebagai agamanya. Barang siapa memilih agama selain Islam, maka sungguh ia telah memilih jalan kesengsaraan, dan sudah pasti agama tersebut tidak akan diterima oleh Allah Ta‘ala. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينَا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْأَخِرَةِ مِنَ الْخَسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran:85)[1]
Lalu, apa itu Islam? Perlu kita ketahui bahwa Islam adalah sikap berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.
Maksud dari berserah diri adalah menyerahkan diri kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Barang siapa berserah diri kepada Allah sekaligus kepada selain-Nya, maka ia adalah seorang musyrik. Adapun orang yang enggan berserah diri kepada-Nya, maka ia adalah seorang yang sombong. Berserah diri tersebut dilakukan dengan tauhid, yaitu mengesakan Allah Ta‘ala dalam ibadah. Barang siapa menyembah Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya, maka sungguh ia telah berserah diri kepada-Nya.
Bersamaan dengan sikap berserah diri seorang hamba kepada Allah dengan tauhid, wajib baginya untuk tunduk dan patuh kepada-Nya yaitu kepada Allah Ta‘ala dengan ketaatan, yakni melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketaatan mencakup ketaatan dalam perintah dengan melaksanakannya serta ketaatan dalam larangan dengan meninggalkannya.
Sikap berserah diri dan kepatuhan ini juga mengandung makna berlepas diri, yaitu seorang muslim berlepas diri dari perbuatan dan ucapan kesyirikan serta meyakini kebatilannya. Ia juga berlepas diri dari para pelakunya dengan memusuhi mereka, tanpa menyerupai mereka dalam ucapan maupun perbuatan. Inilah hakikat Islam. [2]
Kemudian, sejak diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada agama yang tersisa selain agama Islam.[3] Inilah Islam, yaitu agama yang paling diridai dan paling dicintai oleh Allah Ta‘ala, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ ٱلْإِسْلَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam…”(QS. Ali-Imran:19) [4]
Setelah Allah memerintahkan kita untuk menjadikan Islam sebagai agama, maka di dalam Islam kita juga diwajibkan untuk berserah diri dengan menjalankan ketaatan sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Apa pun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, wajib bagi kita untuk mengikutinya tanpa bantahan.
Sebagaimana kisah yang sangat sering kita dengar, yaitu kisah ‘Umar bin al-Khaṭṭāb radhiyallāhu ‘anhu ketika beliau mencium Hajar Aswad. Saat itu, ‘Umar berkata kepada batu tersebut:
“Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah sebuah batu, tidak memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”
Dengan demikian, mencium Hajar Aswad bukanlah ibadah kepada batu tersebut, melainkan ibadah kepada Allah Ta‘ālā. Demikian pula thawaf di Ka‘bah bukanlah ibadah kepada Ka‘bah itu sendiri, melainkan pelaksanaan perintah Allah dan bentuk ibadah kepada-Nya.
Oleh karena itu, seluruh perkara agama ini sepenuhnya bergantung pada perintah Allah dan syariat-Nya. Tidak ada alasan untuk membantahnya, karena Iblis pernah membantah perintah Allah, sehingga akibatnya adalah pengusiran, penyingkiran, laknat, dan kemurkaan. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.[5]
Catatan kaki:
[1] Al-Qur’an Al-Karim
[2] alukah.net
[3] Penjelasan Dr. Maher bin Abdurrahim Al-Khoujah menit 43.44
[4] Al-Qur’an Al-Karim
[5] Syarah Risalah Fadhlul Islam Syaikh Dr. Sholeh Al-Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hal.20