Dalam Islam, yang selalu menjadi penilaian adalah kualitas atau keautentikan suatu perkara, bukan sekadar ikut-ikutan atau sekadar berbangga dengan jumlah. Islam memberikan nilai yang tinggi terhadap perkara yang sederhana, tetapi sesuai dengan petunjuk yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada gunanya bersungguh-sungguh dalam beragama apabila jauh dari sandaran Al-Qur’an dan Sunnah, karena bukanlah tolok ukur seseorang itu menangis dan khusyuk, melainkan tolok ukur yang sebenarnya adalah bagaimana keadaan atau jalan hidup yang ia tempuh.
Dalam beragama, wajib bagi kita untuk mengikuti jalan yang lurus, yaitu jalan yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Siapa saja yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka dosa-dosanya akan diampuni dan ia tidak akan disentuh oleh api neraka selama-lamanya. Sebagaimana atsar yang datang dari sahabat Ubay bin Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
عليكم بالسبيل والسنة، فإنه ليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن ففاضت عيناه من خشية الله فتمسه النار، وليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن فاقشعر جلده من خشية الله إلا كان كمثل شجرة يبس ورقها، فبينما هي كذلك إذ أصابتها الريح فتحات عنها ورقها، إلا تحاتت عنه ذنوبه كما تحات عن هذه الشجرة ورقها، وإن اقتصاداً في سبيل وسنة خير من اجتهاد في خلاف سبيل وسنة. فانظرو أعمال لكم فإنكانت اجتهادا واقتصادا ان تكون على منهاج الأنبياء وسنتهم.
Hendaklah kalian mengikuti jalan lurus dan as-Sunnah, karena sesungguhnya tidak ada seorang hamba yang mengikuti jalan lurus dan as-Sunnah, yang mengingat Allah hingga kedua matanya meneteskan air mata (menangis) karena takut kepada Allah, lalu akan disentuh api neraka. Tidaklah seorang hamba yang mengikuti jalan lurus dan as-Sunnah yang mengingat Yang Maha Pengasih hingga kulitnya merinding karena takut kepada Allah, kecuali dia seperti pohon yang daunnya mengering, (yakni) melainkan dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun-daunnya jatuh dari pohon tersebut. Dan sesungguhnya bersikap pertengahan dalam as-Sunnah adalah lebih baik dibandingkan bersungguh- sungguh dalam menyelisihi jalan Allah dan SunnahNya, Maka perhatikanlah amal-amal kalian, jika ia dalam keadaan sungguh-sungguh atau pertengahan, maka hendaknya ia tegak di atas manhaj para Nabi dan Sunnah mereka.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no. 35526; dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/252.
Apabila seseorang berada di atas jalan yang lurus, sesuai dengan petunjuk yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya, lalu ia mendapati dirinya merasa semakin takut kepada Allah dan mudah menangis, maka hal itu merupakan manfaat yang ia peroleh dari benarnya jalan yang ia tempuh. Adapun jika kita melihat seseorang tampak khusyuk dan mudah menangis, tetapi ia tidak mengikuti jalan yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya, maka kekhusyukan dan tangisannya tersebut merupakan tipu daya setan, karena tidak ada manfaat baginya apabila ia menangis atau merasa khusyuk dalam beragama, sementara ia tidak mengikuti jalan yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Hal ini karena banyak di antara orang-orang Nasrani yang juga menangis dan tampak khusyuk dalam beragama, tetapi mereka tidak mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Bahkan, sejatinya mereka berada di atas kekeliruan yang nyata. Demikian pula banyak dari kalangan penyembah kubur yang sangat mudah menangis, bahkan dengan tangisan yang mendalam. Namun, dengan tangisan tersebut tidak ada pahala yang mereka peroleh dan tidak pula diterima di sisi Allah, karena tangisan dan kekhusyukan mereka tidak dibangun di atas petunjuk yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.Sebagaimana perkataan sahabat yang mulia yaitu Ubay bin Ka’ab radhiallahu’anhu:
وإن اقتصاداً في سبيل وسنة خير من اجتهاد في خلاف سبيل وسنة. فانظرو أعمال لكم فإنكانت اجتهادا واقتصادا ان تكون على منهاج الأنبياء وسنتهم.
“…Dan sesungguhnya bersikap pertengahan dalam as-Sunnah adalah lebih baik dibandingkan bersungguh- sungguh dalam menyelisihi jalan Allah dan Rasul-Nya, Maka perhatikanlah amal-amal kalian, jika ia dalam keadaan sungguh-sungguh atau pertengahan, maka hendaknya ia tegak di atas manhaj para Nabi dan Sunnah mereka.”
Ini merupakan ungkapan yang sangat agung, yaitu bahwa meskipun seseorang beramal dengan amalan yang ringan, selama ia berpegang teguh kepada petunjuk Nabi ﷺ, maka itulah kebaikan yang hakiki. Sebaliknya, bersungguh-sungguh dalam amal tetapi menyelisihi petunjuk, sungguh ia berada di atas kesia-siaan yang nyata.
“Bukanlah tolok ukur itu banyaknya amal, dan bukan pula banyaknya tangisan; tetapi tolok ukur yang sebenarnya adalah mengikuti Al-Kitab dan Sunnah. Sekalipun amalnya sedikit, maka hal itu berada di atas kebaikan yang banyak dan di atas jalan keselamatan. Dan tangisannya, kekhusyukannya, serta rasa takutnya kepada Allah menjadi sebab keselamatannya dari neraka.”
Referensi:
- Syarah Risalah Fadhlul Islam, Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah
- Penjelasan Syaikh Dr. Maher bin Abdurrahim Khoujah hafizhahullah