Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْ يَٰعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُواْ مِن رَحْمَةِ ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat yang mulia ini menjelaskan luasnya rahmat Allah dan kelembutan-Nya kepada para hamba-Nya. Di dalamnya terdapat seruan dari Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada orang-orang yang melampaui batas dan para pendosa yang telah melakukan dosa-dosa yang sangat besar dan sangat buruk termasuk di dalamnya kesyirikan, kekufuran, dan dosa-dosa besar agar mereka berhenti dari dosa-dosa tersebut dan memohon ampun kepada Rabb mereka Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sesungguhnya Dia mengampuni seluruh dosa, dan tidak ada dosa yang dianggap terlalu besar oleh-Nya, betapapun besar dan beratnya, selama pelakunya memohon ampun dan bertaubat.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman:
«قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي؛ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ، لَو بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي؛ غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَو أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا؛ لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»
“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa pun yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
Dan Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya dalam Al-Qur’an untuk memohon ampun. Allah Ta‘ala berfirman:
وَاسْتَغْفِرُوا ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20)
Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga menjelaskan bahwa Dia mengampuni orang yang memohon ampun kepada-Nya. Dia berfirman:
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Barang siapa melakukan kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)
Allah juga memuji hamba-hamba-Nya yang gemar beristighfar. Dia berfirman:
وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ
“Dan orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur (menjelang fajar).” (QS. Ali ‘Imran: 17)
Termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah memperbanyak istighfar. Beliau bersabda:
«إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ»
“Sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
Dalam hadits lain disebutkan:
«أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»
“Lebih dari tujuh puluh kali.”
Dan sesungguhnya bulan Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri dalam pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang mendapati Ramadhan lalu mengisi hari-hari dan malam-malamnya dengan ketaatan kepada Allah dan hal-hal yang diridhai-Nya, sehingga ia berhak mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Raja Yang Mahaadil.
Sungguh orang yang celaka adalah orang yang telah datang kepadanya bulan yang agung ini, namun ia tidak melakukan amal saleh yang dapat mengangkat derajatnya. Ia tidak bertaubat dari dosa-dosa yang membinasakan dan menghinakannya. Ia menyia-nyiakan bulannya, siang dan malamnya, dalam hal-hal yang membuat Rabbnya murka dan menjatuhkannya ke dalam kebinasaan. Ia tidak menghadap kepada Rabbnya untuk memohon ampunan atas dosa-dosa dan kesalahannya, hingga bulan ampunan itu berlalu sementara ia tetap dalam sikap berpaling dan terus melakukan dosa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَن أَدْرَكَ أَحَدَ وَالِدَيْهِ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ. قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَن أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَمَاتَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَأُدْخِلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ. قَالَ: وَمَن ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ»
“Jibril datang kepadaku lalu berkata: Wahai Muhammad, barang siapa yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Amin. Maka aku pun berkata: Amin.
Jibril berkata lagi: Wahai Muhammad, barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu ia meninggal sementara dosa-dosanya belum diampuni sehingga ia masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Amin. Maka aku pun berkata: Amin.
Jibril berkata lagi: Dan barang siapa yang namamu disebut di hadapannya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya (dari rahmat-Nya). Katakanlah: Amin. Maka aku pun berkata: Amin.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
«رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ»
“Sungguh hina seseorang yang ketika namaku disebut di hadapannya ia tidak bershalawat kepadaku. Dan sungguh hina seseorang yang menjumpai bulan Ramadhan kemudian bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan. Dan sungguh hina seseorang yang mendapati kedua orang tuanya telah tua namun keduanya tidak menjadikannya masuk surga.”
Seorang mukmin seharusnya memanfaatkan kebaikan dan keberkahan bulan ini, serta senantiasa mebiasakan istighfar dan memperbanyaknya agar ia memperoleh hasil yang penuh berkah dan manfaat yang agung darinya, yang sangat banyak dan tidak terhitung, baik di dunia maupun di akhirat.
Di antara manfaatnya di dunia adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta‘ala:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ ٱلسَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku (Nuh) berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10–12)
Disebutkan dalam sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: bahwa seorang lelaki mengadu kepadanya tentang kekeringan, maka ia berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”
Lelaki lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka ia berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”
Lelaki lain mengadu kepadanya tentang kebunnya yang kering, maka ia berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”
Dan lelaki lain mengadu kepadanya tentang tidak memiliki anak, maka ia berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”
Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta‘ala tentang ucapan Nabi Nuh ‘alaihissalam:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ ٱلسَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Jika kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya, dan menaati-Nya, maka Dia akan melimpahkan rezeki kepada kalian, menurunkan berkah dari langit kepada kalian, menumbuhkan bagi kalian keberkahan dari bumi, menumbuhkan tanaman, melimpahkan susu dari ternak, serta menambah kalian dengan harta dan anak-anak. Maksudnya: Allah memberi kalian harta dan keturunan, menjadikan bagi kalian kebun-kebun yang di dalamnya terdapat berbagai macam buah-buahan, dan mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu.
Buah-buah (manfaat) yang disebutkan ini adalah sebagian dari hal yang diperoleh seorang hamba di dunia sebagai balasan atas istighfarnya, berupa berbagai kebaikan yang luas, pemberian yang mulia, dan manfaat yang beragam.
Adapun apa yang akan diperoleh oleh orang-orang yang banyak beristighfar pada hari kiamat berupa pahala yang besar, ganjaran yang agung, rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, serta keselamatan dari azab, maka hal itu tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah Ta‘ala.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
طُوبَىٰ لِمَن وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ استِغْفَارًا كَثِيرًا
“Berbahagialah orang yang mendapati dalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (Hadits ini sanadnya shahih).
Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Awsath dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيفَتُهُ فَلْيُكْثِرْ فِيهَا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ»
“Barang siapa yang ingin agar catatan amalnya menyenangkannya (pada hari kiamat), maka hendaklah ia memperbanyak istighfar di dalamnya.”
Namun perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan istighfar di sini adalah istighfar yang disertai dengan meninggalkan sikap terus-menerus dalam dosa. Jika demikian, maka istighfar itu termasuk taubat yang tulus (taubat nasuha) yang menghapus dosa-dosa sebelumnya. Inilah istighfar yang dianjurkan oleh Allah dan yang pelakunya diberi balasan berupa ampunan.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَامِلِينَ
“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah dan mereka tidak terus-menerus dalam perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui. Mereka itulah yang balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Ali ‘Imran: 135–136)
Untuk mendapatkan ampunan terdapat tiga sebab besar, sebagaimana terkumpul dalam hadits Anas yang telah disebutkan sebelumnya.
Pertama: seorang hamba apabila melakukan dosa, ia tidak berharap ampunan kecuali dari Rabbnya, dan ia mengetahui bahwa tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Nya.
Dalam Shahih disebutkan dari Nabi ﷺ:
«أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ…»
“Seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, ampunilah dosaku. Maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman: Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu ia mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan juga menghukum karena dosa…”
Kemudian ia kembali melakukan dosa dan berkata: Wahai Rabbku, ampunilah dosaku. Maka Allah berfirman: Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu ia mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa.
Kemudian ia kembali lagi melakukan dosa
Lalu ia berkata: “Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.” Maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman:
«أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ، اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ»
“Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu ia mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa. Lakukanlah apa yang engkau kehendaki, sungguh Aku telah mengampunimu.”
(Maksudnya: selama ia setiap kali berdosa kemudian bertaubat dan memohon ampun.)
Sebab kedua: istighfar (memohon ampun), walaupun dosa-dosa itu sangat besar dan sangat banyak hingga mencapai ‘anan as-samā’ (awan di langit). ‘Anan as-samā’ adalah awan, dan ada yang mengatakan: sejauh pandangan mata terhadapnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَمْلَأَ خَطَايَاكُمْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتُمُ اللَّهَ، لَغَفَرَ لَكُمْ»
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya kalian berbuat kesalahan hingga dosa-dosa kalian memenuhi antara langit dan bumi, kemudian kalian memohon ampun kepada Allah, niscaya Dia akan mengampuni kalian.”
Istighfar berarti memohon ampunan. Adapun ampunan (maghfirah) adalah perlindungan dari keburukan dosa sekaligus penutupannya. Jika istighfar digandengkan dengan taubat, maka istighfar berarti memohon ampun dengan lisan, sedangkan taubat berarti meninggalkan dosa dengan hati dan anggota badan.
Sebab ketiga: tauhid. Ini adalah sebab yang paling besar. Barang siapa kehilangannya maka ia kehilangan ampunan, dan barang siapa datang dengannya maka ia telah membawa sebab terbesar untuk memperoleh ampunan.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)
اللهم اغفر لنا ذنوبنا كلها صغيرها وكبيرها ما علمنا منها وما لم نعلم، واختم بالصالحات أعمالنا.
“Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami, yang kecil maupun yang besar, yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, dan tutuplah amal-amal kami dengan kebaikan.”
Sumber:
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Maqolat Romadoniyah Syahru Syiam Adab wa Ahkam. hlm. 79-84