Sifat dasar manusia memang menyukai perkara-perkara yang menakjubkan. Ketika melihat sesuatu yang besar, muncullah rasa kagum. Ketika menyaksikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia, rasa kekaguman itu pun kembali muncul. Hal ini tidak keliru sebagai sebuah fakta. Akan tetapi, tahukah kita bahwa Islam tidak semata-mata menilai suatu berdasarkan kuantitas.
Sering kali peperangan dalam sejarah Islam justru dimenangkan oleh pasukan yang jumlahnya sedikit, dan tidak jarang pula jumlah yang banyak malah berujung pada kekalahan. Oleh karena itu, Islam senantiasa memandang kualitas lebih utama daripada kuantitas.
Apabila kita tarik pembahasan ini ke dalam urusan agama, maka seorang muslim yang berpegang teguh pada akidah yang lurus, sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta berada di atas pemahaman generasi terdahulu yaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dialah muslim yang paling baik dan utama dibandingkan dengan orang yang tampak ahli dalam ibadah, namun berdiri di atas akidah yang keliru.
Seseorang yang berjalan di atas akidah yang lurus lebih baik dan lebih utama, meskipun ia lemah dalam sebagian ibadah, dibandingkan dengan ahli puasa dan ahli qiyamulail akan tetapi berada di atas akidah yang keliru, jauh dari petunjuk yang dibawa oleh generasi terdahulu, yaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Hal ini karena mereka membawa perkara yang paling wajib dari seluruh kewajiban, yaitu akidah, sementara ahli ibadah tersebut perkara yang sunnah dan tidak jarang mereka membawa perkara yang tidak ada asal usulnya dalam islam. Sebagaimana atsar yang datang dari Abu Darda radhiallahu’anhu beliau berkata:
ياحبذا نوم الأكياس وإفطارهم ، كيف يغبنون سهر الحمقى وصومهم .؟ ولمثقال ذرة من بر مع تقوى ودين ، أعظم وأفضل وأرجح من أمثال الجبال عبادة من المغترين … “
“Alangkah baiknya tidur orang-orang yang cerdas dan berbukanya mereka; bagaimana hal itu justru mengalahkan begadang dan puasa orang-orang yang bodoh. Dan sungguh, seberat zarah dari kebaikan yang disertai takwa dan agama, itu lebih agung, lebih utama, dan lebih berat (nilainya) dibandingkan ibadah sebesar gunung-gunung yang dilakukan oleh orang-orang yang tertipu (oleh amalnya).” (Abu Na’im dalam Hilyah 1/211)
Oleh karena itu, orang-orang yang berada di atas akidah yang benar, meskipun mereka lemah dalam melaksanakan ibadah sunah, tetap menjadi golongan yang terbaik dan lebih utama dibandingkan dengan orang-orang yang berada di atas akidah yang menyimpang. Hal ini karena mereka beragama tidak mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sebagaimana ketika Nabi ﷺ menjelaskan tentang sifat orang-orang Khawarij, beliau berkata kepada para sahabat bahwa sesungguhnya salat kalian tidak akan sebanding dengan salat mereka, bacaan Al-Qur’an kalian tidak akan sebanding dengan bacaan Al-Qur’an mereka, dan puasa kalian pun tidak akan sebanding dengan puasa mereka. Namun demikian, mereka melakukan semua itu jauh dari petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, serta jauh dari pemahaman yang benar.
Akan tetapi, penjelasan di atas bukan bertujuan untuk mengajarkan bahwa Ahlus Sunnah dimaklumi apabila bermalas-malasan. Bukan itu maksud yang diinginkan oleh para ulama terdahulu. Penjelasan ini disampaikan sebagai pembanding agar kita tidak tertipu oleh kesungguhan para pengikut hawa nafsu dalam beribadah, sehingga kita tidak menyanjung mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai rujukan dalam beragama. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah harus menjadi pihak yang terdepan dalam urusan ibadah serta dalam memberikan teladan yang terbaik.
Oleh karena itu, kita wajib berhati-hati dan tidak tertipu oleh kesungguhan ibadah yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang akidahnya. Hendaknya kita berusaha menjadi muslim yang berkualitas, bukan sekadar berorientasi pada kuantitas ibadah. Pelajarilah akidah yang benar sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallāhu ‘anhum.
Sumber:
- Syarh Risalah Fadhlul Islam
- Penjelasan Syaikh Maher bin Abdurrahim Khoujah hafidzahullah
- Al-Athar.net