Batu adalah makhluk, pohon adalah makhluk, lautan adalah makhluk, dan gunung-gunung pun merupakan makhluk ciptaan Allah. Semuanya adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan oleh Allah ta’ala. Namun, sungguh mengherankan, masih banyak manusia yang justru memohon, meminta pertolongan, bahkan beribadah kepada benda-benda tersebut.

Padahal, batu tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat dengan sendirinya. Pohon tidak mampu mengabulkan doa. Lautan dan gunung-gunung tidak memiliki kekuasaan untuk memenuhi permintaan manusia. Semuanya adalah makhluk yang tunduk kepada Allah ta’ala.

Lebih menyedihkan lagi, ada manusia yang mendatangi kuburan, lalu memohon kepada penghuni kubur, meminta rezeki, keturunan, kesembuhan, dan berbagai hajat lainnya. Padahal, penghuni kubur itu telah meninggalkan kehidupan dunia dan tidak memiliki kekuasaan untuk mengabulkan permohonan.

Allah ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“Demikianlah Allah, Tuhanmu. Milik-Nyalah segala kerajaan. Adapun orang-orang yang kamu seru selain Allah, mereka tidak mempunyai sesuatu walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Janganlah engkau menyembah sesuatu selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudarat kepadamu. Jika engkau melakukan hal itu, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yunus: 106).

Bukanlah yang patut dikasihani adalah si miskin yang hari ini tidak memiliki makanan. Bukan pula si yatim yang kehilangan orang tuanya, ataupun si sakit yang merindukan kesembuhan. Mereka semua tentu patut mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan pertolongan.

Namun, ada musibah yang jauh lebih besar daripada kemiskinan harta, kehilangan orang yang dicintai, ataupun sakitnya tubuh, yaitu ketika seseorang kehilangan petunjuk dalam beribadah kepada Allah. Ia dikaruniai akal untuk berpikir, tetapi tidak menggunakannya untuk merenungkan kebenaran. Ia memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk memahami, tetapi justru berpaling dari Rabb yang telah menciptakan dirinya dan seluruh alam semesta.

Coba sejenak ia berhenti dan merenung. Bertanyalah kepada dirinya sendiri:

“Apakah yang sedang aku lakukan ini benar? Mengapa aku memohon kepada makhluk yang sama-sama diciptakan, sedangkan aku meninggalkan Allah, Rabb yang menciptakan seluruh alam semesta, yang mengatur langit dan bumi beserta segala sesuatu yang ada di antara keduanya?

Apakah batu ini mampu memberiku manfaat dengan sendirinya? Apakah pohon ini mampu menolak bahaya dariku? Apakah penghuni kubur ini memiliki kekuasaan untuk mengabulkan permintaanku?

Jika semuanya adalah makhluk yang tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, lalu mengapa aku menggantungkan harapan kepadanya? Mengapa aku memohon kepada makhluk, sedangkan Allah adalah Penciptaku, Rabb yang menguasai segala sesuatu, dan hanya kepada-Nya aku seharusnya mengarahkan ibadah?”

Allah ta’ala berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Maka, tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44).

Ayat-ayat tersebut mengingatkan kita agar tidak menjadikan sesembahan selain Allah sebagai tujuan ibadah. Berbagai sesembahan yang diagungkan manusia tidak berhak mendapatkan ibadah, sebab hanya Allah yang berhak disembah.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai terhadap doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf: 5).

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa dosa terbesar yang dilakukan manusia adalah mempersekutukan Allah dalam ibadah. Inilah kezaliman yang paling besar, sebab seseorang memberikan hak Allah kepada selain-Nya.

Allah ta’ala berfirman tentang nasihat Luqman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar merupakan kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Rasulullah ﷺ juga pernah ditanya tentang dosa yang paling besar. Beliau menjawab:

أن تدعو لله ندا وهو خلقك

“Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 6861)

Renungkanlah hadis ini!

Bagaimana mungkin seseorang menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakannya? Bagaimana mungkin ia menggantungkan ibadah kepada makhluk yang tidak menciptakannya, sedangkan ia sendiri diciptakan oleh Allah? Bagaimana mungkin ia mengarahkan doa ibadah kepada selain-Nya, padahal Allah-lah yang menguasai segala urusannya?

Sungguh, ini adalah perkara yang sangat besar. Karena itulah, setiap Muslim wajib menjaga tauhidnya, memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah, dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka, janganlah kamu menyembah siapa pun di samping Allah.”(QS. Al-Jinn: 18).

Maka, marilah kita kembali kepada tauhid yang murni. Mintalah hanya kepada Allah dalam perkara yang merupakan hak-Nya, bertawakallah kepada-Nya, dan gantungkanlah harapan kepada-Nya. Adapun meminta pertolongan kepada makhluk yang masih hidup dalam perkara yang mampu dilakukannya, hal itu diperbolehkan dan tidak termasuk kesyirikan.

Jangan sampai kita begitu takut kehilangan dunia, tetapi tidak takut kehilangan tauhid. Jangan sampai kita begitu bersungguh-sungguh mencari rezeki, tetapi lalai menjaga ibadah kepada Allah. Jangan sampai kita mengharapkan keselamatan di dunia, tetapi justru melakukan perbuatan yang membahayakan keselamatan kita di akhirat.

Sebab, tidak ada keselamatan yang lebih besar daripada keselamatan agama, dan tidak ada kerugian yang lebih besar daripada meninggal dunia dalam keadaan membawa kesyirikan tanpa bertobat darinya.

Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita di atas tauhid, menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan, serta mewafatkan kita dalam keadaan beribadah hanya kepada-Nya.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Referensi:

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari. Cetakan Mu’assasah ar-Risalah, hlm. 1591, Kitab al-Diyat, hadis no. 6861.

    Selesai, Alhamdulillah.

    9 Jumadalula 1448 H / 19 Oktober 2026

    Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi

    Oleh: Zanuri Anwar Said

    Artikel: Riwayah.org