Para sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Merekalah penerus estafet perjuangan Rasulullah ﷺ. Allah memuji mereka dalam banyak ayat Al-Qur’an dan menganugerahkan julukan-julukan mulia sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan mereka, seperti as-sabiqunal awwalun, Muhajirin, dan Anshar. Julukan-julukan ini tentu sudah akrab di telinga kita.

Namun, ketika disebut Ahlus Suffah, tak banyak yang mengenalnya, seolah istilah itu asing bagi kita. Siapa sebenarnya mereka? Bagaimana awal kemunculannya? Berapa jumlah mereka? Dan pesan moral apa yang bisa kita petik dari kisah mereka? Tulisan singkat ini akan mengupas poin-poin tersebut.

Latar Belakang Terbentuknya Suffah

gambar hanya ilustrasi

Setelah kaum Muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah, kaum Muhajirin menghadapi kesulitan ekonomi karena meninggalkan rumah dan harta benda mereka demi menyelamatkan agama. Mereka juga kesulitan mencari penghidupan karena perekonomian Madinah didominasi pertanian, sedangkan masyarakat Makkah umumnya berlatar belakang perdagangan. Selain itu, mereka tidak memiliki lahan pertanian maupun modal untuk memulai usaha.1

Kaum Anshar telah berusaha membantu kaum Muhajirin semaksimal mungkin, tetapi kebutuhan tempat tinggal belum sepenuhnya terpenuhi. Kedatangan para pendatang dan delegasi dari berbagai daerah semakin menambah kebutuhan akan tempat singgah, terutama bagi mereka yang tidak memiliki keluarga atau kenalan di Madinah.2

Suffah sebagai Tempat Berlindung

Setelah arah kiblat dipindahkan dari Baitulmaqdis ke Ka’bah—sekitar enam belas atau tujuh belas bulan setelah hijrah—Nabi ﷺ memerintahkan agar bagian belakang Masjid Nabawi (yang tadinya menghadap ke arah kiblat lama) diberi naungan atau atap. Tempat ini kemudian dikenal sebagai ash-Suffah atau az-Zhullah yang artinya tempat yang dinaungi 3, tempat tersebut tidak memiliki dinding yang menutup sekelilingnya.4

Suffah menjadi tempat berlindung bagi kaum fakir yang menetap di Madinah dan tempat singgah bagi para pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal. Luasnya tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan mampu menampung banyak orang. Disebutkan pula bahwa sekitar tiga ratus orang pernah menghadiri suatu walimah yang memanfaatkan area Suffah dan sebagian kamar istri-istri Nabi ﷺ yang berdekatan dengan masjid.56

Para Penghuni Suffah

Penghuni awal Suffah berasal dari kalangan Muhajirin, sehingga tempat tersebut juga disebut Suffah al-Muhajirin. Mereka yang tidak memiliki tempat tinggal atau kenalan di Madinah dapat menetap di sana, termasuk para pendatang yang datang untuk menemui Nabi ﷺ dan menyatakan keislaman.7

Dikisahkan oleh Thalhah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa pendatang yang memiliki kenalan di Madinah akan tinggal bersama kenalannya, sedangkan mereka yang tidak memiliki kenalan akan tinggal bersama Ahlus Suffah. Ia sendiri pernah menjadi penghuni Suffah dan dipasangkan dengan seorang laki-laki. Rasulullah ﷺ memberikan jatah satu mud8 kurma setiap hari untuk dua orang.9

Tidak semua Ahlus Suffah berkumpul pada waktu yang sama. Sebagian dari mereka menikah atau pindah ke tempat lain yang memungkinkan untuk ditinggali. Orang-orang datang silih berganti, sehingga jumlah mereka terkadang sedikit dan terkadang banyak. Kadang jumlah mereka sepuluh orang atau kurang, kadang dua puluh atau tiga puluh orang lebih, dan kadang mencapai enam puluh atau tujuh puluh orang.10

Adapun jumlah keseluruhan orang yang pernah bernaung di Suffah, meskipun terpisah-pisah dalam waktu yang berbeda, dikatakan sekitar empat ratus orang dari kalangan sahabat. Dikatakan pula bahwa jumlah mereka lebih banyak dari itu dan tidak diketahui seluruhnya satu per satu.11

Abu Nu’aim rahimahullah menyebutkan 86 sahabat yang termasuk Ahlus Suffah dan mengurutkan nama mereka berdasarkan abjad hijaiah dalam kitabnya, Hilyatul Awliya’12. Di antara sahabat yang paling masyhur dan disebut sebagai Ahlus Suffah adalah:

  1. Abu Hurairah: perawi hadis terbanyak.
  2. Salman al-Farisi: berasal dari Persia dan pengusul parit pada Perang Khandaq.
  3. Suhaib bin Sinan: meninggalkan hartanya demi berhijrah.
  4. Khabbab bin al-Arat: sahabat awal yang disiksa kaum Quraisy.
  5. Abdullah bin Mas’ud: ahli Al-Qur’an dan fikih.
  6. Abu Lubabah: sahabat Anshar dari Bani ‘Amr bin ‘Auf.
  7. Tsauban: maula Rasulullah ﷺ.
  8. Zaid bin al-Khaththab: saudara ‘Umar, syahid pada Perang Yamamah.
  9. Salim maula Abi Hudzaifah: ahli Al-Qur’an, gugur di Yamamah.
  10. Abdullah bin Ummi Maktum: muazin Nabi ﷺ yang buta.
  11. ‘Ukasyah bin Mihshan: didoakan masuk surga tanpa hisab.
  12. ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani: ahli baca Al-Qur’an dan perawi hadis.

Semangat Ahlus Suffah dalam Menuntut Ilmu

Di samping sulitnya kondisi yang mereka hadapi, mereka adalah orang-orang yang sangat taat beribadah,semangat berjihad, dan haus akan ilmu. Dekatnya lokasi mereka dengan rumah Nabi ﷺ memberi mereka kesempatan menimba ilmu lebih banyak daripada sahabat lain. Dari sinilah muncul Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, perawi hadis terbanyak, meskipun hanya membersamai Nabi ﷺ kurang lebih empat tahun.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu membagikan rahasia bagaimana ia bisa menjadi perawi hadis terbanyak padahal waktu kebersamaannya dengan Rasulullah ﷺ tergolong singkat. Ia berkata:

“Sesungguhnya orang-orang berkata, ‘Abu Hurairah terlalu banyak (meriwayatkan hadis).’ Seandainya bukan karena dua ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan menyampaikan satu hadis pun.” Kemudian ia membaca:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) … sampai firman-Nya … Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 159–160)

“Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin disibukkan oleh transaksi jual beli di pasar-pasar, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshar disibukkan oleh pekerjaan mengurus harta mereka. Adapun Abu Hurairah, ia selalu menyertai Rasulullah ﷺ dengan (hanya) mengenyangkan perutnya. Ia hadir pada apa yang tidak mereka hadiri, dan ia menghafal apa yang tidak mereka hafal.”13

Perhatian Rasulullah ﷺ terhadap Ahlus Suffah

Nabi ﷺ senantiasa memperhatikan keadaan Ahlus Suffah secara langsung. Beliau mendatangi mereka, memantau kondisi mereka, dan menjenguk yang sakit di antara mereka. Beliau juga sering meluangkan waktu untuk duduk bersama mereka, membimbing, menghibur, memberikan nasihat, menyampaikan berbagai kisah, serta mengarahkan mereka untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an, mengingat Allah ﷻ, dan berorientasi pada kehidupan akhirat. Beliau memotivasi mereka untuk menganggap remeh dunia dan tidak berambisi mengejar kemewahannya.14

Apabila ada sedekah yang datang kepada beliau, beliau mengirimkan seluruhnya kepada mereka tanpa mengambil sedikit pun darinya. Namun, jika ada hadiah yang diberikan kepada beliau, beliau mengirimkan sebagian untuk mereka, sementara sebagian lainnya beliau ambil dan ajak mereka untuk menikmatinya bersama. Selain itu, beliau sering mengundang mereka makan bersama di salah satu kamar istri-istri beliau.15

Nabi ﷺ juga biasa membagikan para penghuni Suffah kepada para sahabat setelah salat Isya agar mereka dapat makan malam di rumah para sahabat. Beliau ﷺ bersabda, “Barang siapa memiliki makanan untuk dua orang, hendaklah ia membawa orang ketiga (untuk makan bersama). Jika untuk empat orang, hendaklah ia membawa orang kelima atau keenam.”

Maka para sahabat membawa sebagian dari mereka, sementara sisanya tetap bersama Nabi ﷺ untuk makan malam di rumah beliau.16

Meski demikian, perlu dicatat bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muslimin, baik dari Ahlus Suffah maupun selainnya, tetap bekerja mencari nafkah selama mampu dan selama pekerjaan itu tidak menghalangi mereka dari amalan yang lebih utama dan lebih dicintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Ketika terhalang di jalan Allah ﷻ dari mencari nafkah, mereka mendahulukan amalan yang lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ahlus Suffah adalah tamu-tamu Islam, sehingga Nabi ﷺ biasa mengirimkan kepada mereka apa saja yang ada pada beliau, karena hasil usaha mereka umumnya tidak mencukupi kebutuhan.17

Penutup

Ahlus Suffah adalah potret nyata kejujuran iman seorang hamba kepada Rabb-nya. Banyak di antara mereka meninggalkan kampung halaman dan harta benda demi meraih apa yang ada di sisi Allahﷻ. Keterbatasan duniawi tidak menyurutkan langkah mereka. Mereka bersabar dalam lapar dan kesederhanaan, memilih ilmu dan ketaatan di atas kenyamanan hidup. Semoga kita dapat meneladani kesabaran, kesungguhan menuntut ilmu, dan keteguhan mereka di jalan Allahﷻ.

Yuk, baca artikel kami lainnya: Ketika Ilmu Tidak Diamalkan

Catatan Kaki:

  1. Akram Dhiya’ al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah: Muhawalah li Tathbiqi Qawa’id al-Muhadditsin fi Naqdi Riwayat as-Sirah an-Nabawiyyah (Madinah: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, 1994), juz 1, hlm. 257. ↩︎
  2. Ibid. ↩︎
  3. Ibnu Manzur, Lisān al-‘Arab, bab shad (māda: sh-f-f / صفف). ↩︎
  4. Akram Dhiya’ al-‘Umari, as-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah…, hlm. 258. ↩︎
  5. Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab an-Nikah, Hadis nomor 94. ↩︎
  6. Akram Dhiya’ al-‘Umari, as-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah…, hlm. 258. ↩︎
  7. Ibid. ↩︎
  8. Mudd adalah takaran isi yang kira-kira sepenuh dua telapak tangan orang dewasa yang sedang (tidak besar dan tidak kecil), Lihat: Ibnu Manzhur, Lisān al-‘Arab, juz 3, hlm. 400 ↩︎
  9. Abu Nu’aim al-Asfahani, Hilyat al-Awliya wa Tabaqat al-Asfiya (Mesir: Mathba’ah as-Sa’adah, 1974), juz 1, hlm. 339. ↩︎
  10. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa (Madinah: Majma’ Malik Fahd, 2004), juz 11, hlm. 41. ↩︎
  11. Ibid. ↩︎
  12. Abu Nu’aim al-Asfahani, Hilyat al-Awliya…, juz 1, hlm. 347. ↩︎
  13. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq Dr. Musthafa Dib al-Bugha (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1993), juz 1, hlm. 55, hadis no. 118. ↩︎
  14. Akram Dhiya’ al-‘Umari, as-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah…, hlm. 266 ↩︎
  15. Ibid.,hlm 257. ↩︎
  16. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari , juz 3, hlm. 1312, no. hadis 3388 ↩︎
  17. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz 11, hlm. 45. ↩︎

Referensi:

Abū Nu‘aym al-Aṣbahānī, Aḥmad bin ‘Abdillāh. Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’. 10 jilid. Mesir: Maṭba‘at as-Sa‘ādah, 1394 H/1974 M.

Ibnu Taimiyah, Aḥmad bin ‘Abd al-Ḥalīm. Majmū‘ al-Fatāwā. Dihimpun oleh ‘Abd ar-Raḥmān bin Muḥammad bin Qāsim. Madinah: Majma‘ al-Malik Fahd li Ṭibā‘at al-Muṣḥaf asy-Syarīf, 1425 H/2004 M.

al-‘Umarī, Akram Ḍiyā’. as-Sīrah an-Nabawiyyah aṣ-Ṣaḥīḥah. 2 jilid. Cet. 6. Madinah: Maktabat al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 1415 H/1994 M.

Selesai, Alhamdulillah

4 Jumadal Ula 1448 H/15 Oktober 2025 M, di Madinah

Abirus Sabil

Artikel Riwayah.org