Hendaknya seseorang menjaga lisan dari segala jenis keburukan yang ada di dalamnya. Sebelum seseorang berbicara, hendaknya ia memikirkan terlebih dahulu apakah pembicaraan tersebut mengandung kebaikan atau justru keburukan. Jika mengandung kebaikan, silakan ia berbicara. Adapun jika mengandung keburukan, hendaknya ia menahan lisannya sekuat mungkin.
Berkaitan dengan hal ini, telah datang kepada kita hadis dari ‘Uqbah bin ‘Āmir radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata:
قلتُ: يا رسولَ اللهِ، ما النَّجاةُ؟
“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?’”
Beliau ﷺ menjawab:
أَمْلِكْ عليكَ لسانَكَ، ولْيَسَعْكَ بيتُكَ، وابْكِ على خطيئتِكَ
“Kuasailah (jagalah) lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa cukup, dan menangislah atas kesalahanmu.” HR. At-Tirmidzi dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih-nya.
Dari jawaban Nabi «ﷺ, «أَمْلِكْ عليكَ لسانَكَ», kita dapat mengambil pelajaran tentang betapa pentingnya menjaga lisan. Akan tetapi, tidak sampai di situ saja. Seseorang mungkin menjaga lisannya dengan baik dan tidak berbicara, tetapi jari-jemarinya bergoyang-goyang di atas papan ketik untuk menghina atau menyebutkan keburukan saudaranya. Maka, hal ini tidak ada bedanya dengan ia berbicara dengan lisan.
Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Besarnya Bahaya Lisan
Lisan sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada hunusan pedang. Ia dapat merobek kehormatan siapa pun jika tidak dijaga dengan baik. Bahkan, bahaya yang ditimbulkannya bukan hanya dalam urusan dunia, tetapi juga dapat merusak urusan akhirat seseorang.
Oleh karena itu, perkara lisan memiliki ancaman yang berat bagi siapa pun yang tidak pandai menjaganya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ العبدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكلمةِ ما يَتَبَيَّنُ فيها، يَزِلُّ بها في النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan dengan matang, sehingga karenanya ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Kemudian Nabi ﷺ juga bersabda:
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ، فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا، فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Apabila anak Adam memasuki pagi hari, seluruh anggota tubuh tunduk kepada lisan seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga kami. Sesungguhnya kami bergantung kepadamu. Jika engkau lurus, kami pun akan lurus. Jika engkau menyimpang, kami pun akan menyimpang.’” HR. At-Tirmidzi.
Kunci Seluruh Kebaikan Dunia dan Akhirat
Menjaga lisan dan memeliharanya merupakan kunci seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, mengabaikannya, membiarkannya bebas berbicara, dan tidak menjaganya merupakan sebab kebinasaan dan kerugian.
Oleh karena itu, ketika Nabi ﷺ menjelaskan kepada Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu tentang pokok-pokok agama dan pintu-pintu kebaikan dalam sebuah hadis yang panjang, beliau ﷺ menutupnya dengan sabdanya:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟
“Maukah aku beritahukan kepadamu kunci dari semua itu?”
Mu‘ādz menjawab, “Tentu, wahai Nabi Allah.”
Kemudian beliau ﷺ memegang lisannya dan bersabda:
كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا
“Tahanlah lisanmu ini!”
Aku (Mu‘ādz) bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan?”
Beliau ﷺ bersabda:
«ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ – أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»
“Celaka engkau, wahai Mu‘ādz! Bukankah yang paling banyak menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka dengan wajah mereka atau dengan hidung mereka adalah hasil dari apa yang mereka panen dari lisan mereka?” HR. At-Tirmidzi.
Maka, sudah semestinya seorang yang mengaku beriman bersungguh-sungguh untuk tidak membiarkan lisannya liar berbicara dalam perkara yang tidak bermanfaat baginya. Sebab, diam dalam keadaan seperti ini merupakan keselamatan dan jalan menuju keselamatan, sebagaimana telah shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
مَنْ صَمَتَ نَجَا
“Barang siapa diam, niscaya ia selamat.” HR. At-Tirmidzi.
Referensi:
‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, ‘Asyrah Mujībāt lin-Najāh.
Selesai, Alhamdulillah.
30 Rabiulakhir 1448 H / 11 Oktober 2026
Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi
Oleh: Zanuri Anwar Said
Artikel: Riwayah.org