Hendaknya kita memiliki perhatian yang besar terhadap sunah Nabi ﷺ, baik dalam ilmu maupun amal. Sebab, berpegang teguh pada sunah merupakan salah satu sebab terbesar keselamatan seseorang pada hari kiamat.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik bin Anas رحمه الله:
من اراد النجاة فعليه بكتاب الله وسنة نبيه
“Barang siapa yang menginginkan keselamatan, hendaknya ia berpegang teguh pada Kitabullah dan sunah Nabi-Nya.”
Beliau juga berkata:
السنة سفينة نوح؛ من ركبها نجا، ومن تخلف عنها غرق
“Sunah adalah kapal Nabi Nuh. Barang siapa menaikinya, ia akan selamat; dan barang siapa meninggalkannya, ia akan tenggelam.”
Maka, hendaknya kita senantiasa berusaha mempelajari sunah Nabi ﷺ, mengamalkannya, dan berpegang teguh kepadanya. Sebab, keselamatan tidaklah diraih hanya dengan mengetahui kebenaran, tetapi juga dengan mengikuti dan mengamalkannya.
Sesungguhnya dunia ini ibarat lautan yang mau tidak mau harus diarungi oleh seluruh manusia untuk sampai kepada suatu tujuan, negeri, dan tempat tinggal. Lautan tersebut tidak mungkin diseberangi kecuali dengan kapal keselamatan.
Maka, Allah mengutus para rasul-Nya untuk mengajarkan kepada umat manusia bagaimana menaiki kapal keselamatan serta memerintahkan mereka untuk menaiki kapal terebut.
Kapal keselamatan itu adalah ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya, beribadah hanya kepada-Nya, mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya, bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk akhirat, serta berusaha meraihnya dengan sungguh-sungguh.
Orang-orang yang mendapatkan petunjuk akan segera bangkit dan menaiki kapal tersebut. Mereka enggan mengarungi lautan dengan cara yang lain karena mereka tahu bahwa lautan tidak mungkin diseberangi hanya dengan berenang.
Adapun orang-orang yang bodoh, mereka menganggap bahwa menaiki kapal merupakan perkara yang sulit. Sehingga, mereka berkata, “Kita akan mengarungi lautan ini dengan berenang.”
Inilah realitas kebanyakan manusia. Mereka pun mengarungi lautan tersebut dengan berenang. Ketika mereka tidak lagi mampu mengarunginya, mereka mulai kelelahan hingga akhirnya tenggelam. Sementara itu, para penumpang kapal selamat, sebagaimana orang-orang yang bersama Nabi Nuh ‘alaihissalam dahulu diselamatkan. Adapun penduduk bumi lainnya tenggelam.
Maka, renungkanlah perumpamaan yang singkat ini. Inilah keadaan kebanyakan manusia di dunia. Niscaya akan jelas bagimu betapa sesuainya perumpamaan tersebut dengan kenyataan.
Pentingnya Mengikuti Sunah
Oleh karena itu di antara sebab-sebab keselamatan adalah memperhatikan dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi yang mulia ﷺ serta senantiasa mengikuti jalan beliau yang lurus.
Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Allah ta’ala berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Intinya, sesuai dengan kadar seseorang dalam mengikuti Rasulullah ﷺ, sebesar itu pula ia akan mendapatkan kemuliaan, kecukupan, dan pertolongan. Demikian pula, sesuai dengan kadar seseorang dalam mengikuti beliau, sebesar itu pula ia akan mendapatkan petunjuk, keberuntungan, dan keselamatan.”
Allah menjadikan kebahagiaan di dunia dan akhirat bergantung pada mengikuti Rasulullah ﷺ, dan menjadikan kesengsaraan di dunia dan akhirat sebagai akibat dari menyelisihi beliau.”
Maka, bagi orang-orang yang mengikuti beliau terdapat petunjuk, keamanan, keberuntungan, kemuliaan, kecukupan, pertolongan, perlindungan, dukungan, serta kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi beliau, terdapat kehinaan, kerendahan, ketakutan, kesesatan, tidak mendapatkan pertolongan, serta kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Kabar Gembira dan Peringatan dari Nabi ﷺ
Beliau ﷺ mengabarkan bahwa siapa saja yang berpegang teguh pada sunahnya, niscaya ia akan mendatangi telaga beliau yang mulia pada hari kiamat dan meminum darinya.
Adapun orang yang meninggalkan sunah beliau dan menggantinya dengan perkara baru dalam urusan agama, atau yang biasa dikenal dengan istilah bid’ah, ia akan dihalau dan dijauhkan dari telaga beliau.
Pada hari kiamat, sebagian manusia akan dihalau oleh para malaikat. Kemudian dikatakan kepada Nabi ﷺ:
«إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي»
“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu.” Maka aku berkata: “Jauh dan binasalah, jauh dan binasalah orang yang mengubah ajaranku setelahku.”
Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya dan menghendaki keselamatannya untuk menjauhi hawa nafsu dan bidah, serta berpegang teguh pada sunah dalam seluruh urusannya, sesuai dengan pemahaman para sahabat yang mulia.
Siapa Golongan yang Akan Selamat?
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ على ثِنْتَيْنِ وسَبْعِينَ مِلَّةً، وتَفْتَرِقُ أُمَّتي على ثلاثٍ وسَبْعينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً واحدَةً»
قالوا: «ومَنْ هي يا رسولَ اللهِ؟»
قال: «ما أَنا عليهِ، وأَصحابِي»
“Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di dalam neraka kecuali satu golongan.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan tersebut, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Yaitu yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
Adapun jalan untuk mewujudkan ittiba’ ini adalah dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i yang dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga seorang muslim dapat beribadah kepada Rabb-nya di atas ilmu dan pemahaman yang jelas, serta sesuai dengan petunjuk Nabi kita yang terpercaya ﷺ.
Sumber:
- Mujibāt Lin-Najāh, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.