Mungkin di antara kita hingga saat ini masih bergelut dengan kebingungan tentang sebuah pertanyaan: mengapa kita diciptakan di muka bumi ini? Apa sih tujuan utama kita diciptakan di dunia ini? Apakah kita hidup hanya sekadar untuk hidup lalu mati, atau ada alasan yang harus kita yakini dari tujuan tersebut?

Tahukah kita, Allah Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an tentang jawaban atas pertanyaan yang selama ini kita renungkan: mengapa kita diciptakan? Di dalam firman tersebut, kita akan mengetahui penjelasan dan maksud yang diinginkan ayat tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقُتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنس إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs.Adz-Dzariyat:56)

Ayat tersebut di dalamnya terdapat pembatasan dengan penggunaan kata “maa” dan “illa”. Gaya bahasa seperti ini oleh para ahli bahasa disebut uslub al-hashr (gaya pembatasan), sehingga tidaklah Allah menciptakan Jin dan Manusia untuk sesuatu pun selain ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah adalah pokok utama yang karena itulah Allah menciptakan makhluk. Cukuplah ayat ini sebagai penjelasan tentang alasan mengapa kita diciptakan.

Apa itu ibadah?

Sering sekali kita mendengar kata ibadah akan tetapi apakah kita tau apa itu ibadah? Ibadah secara bahasa adalah ketundukan dan kerendahan. Maka, ibadah adalah puncak kerendahan kepada Allah disertai dengan puncak kecintaan.

Adapun secara istilah syariat bahwa ibadah adalah:

«العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة»

“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup seluruh perkara yang Allah cintai dan ridhai, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin.”

Inilah hakikat ibadah: puncak kerendahan disertai puncak kecintaan. Barang siapa mencintai sesuatu namun tidak merendahkan diri kepadanya, maka ia tidak disebut beribadah kepadanya. Seperti kecintaan seseorang kepada makanan, minuman, istri, dan sahabat; jika tidak disertai dengan ketundukan maka itu tidak dinamakan ibadah.

Demikian pula, siapa yang tunduk kepada sesuatu namun tidak mencintainya, maka ia juga tidak disebut beribadah. Seperti rasa takut seseorang kepada kegelapan atau para penguasa zalim hingga ia tunduk kepada mereka; itu tidak dinamakan ibadah karena tidak disertai kecintaan.

Maka, ibadah itu bisa dilakukan dengan lisan, hati, dan anggota badan. Dan manusia semestinya sibuk beribadah kepada Allah, lahir maupun batin, karena manusia adalah hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah.

Apakah cukup hanya untuk beribadah saja?

Maka, tidak cukup seseorang hanya beribadah kepada Allah, tetapi ia juga harus menjauhi perbuatan kesyirikan menjauhi segala sesembahan kepada selain Allah. Jika ia meninggal dunia dalam keadaan membawa dosa tersebut, walaupun dia sholat, haji, umrah dan melakukan seluruh jenis ibadah maka ibadahnya menjadi batal, dan amalan yang selama ini ia kerjakan menjadi debu yang berterbangan, tidak ada nilainya dan tidak berguna di sisi Allah.

Selain dia harus berlepas diri dari kesyirikan dia juga harus berlepas diri dari orang-orang musyrik, serta memusuhi mereka. Adapun jika ia membiarkan mereka tetap berada di atas kesyirikan dan tidak berlepas diri dari mereka, maka ibadah yang selama ini dia kerjakan itu tidak bermanfaat baginya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu: jika engkau berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan pasti engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Tauhid sebagai Inti Ajaran Islam

Jika kita berbicara tentang tauhid, maka pembahasan di atas merupakan jawabannya, yaitu bahwa seseorang tidak hanya beribadah, tetapi juga harus menjauhi segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Berbicara tentang tauhid sama halnya dengan berbicara tentang Islam, sebab keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan, karena tauhid adalah Islam. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Āli ‘Imrān: 19)

Ad-Dīn (agama) di sini maksudnya adalah tauhid. Maka Allah tidak menerima kecuali agama islam, dan semua agama yang menyelisihi islam maka ia tertolak, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Āli ‘Imrān: 85)

Maka Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya. Inilah Islam yang dibawa oleh seluruh para rasul, dari yang pertama hingga yang terakhir.

Penutup

Maka terjawablah sudah alasan mengapa kita diciptakan di dunia ini, adalah hanya untuk satu tujuan yaitu ibadah kepada Allah Ta’ala. Kita tidak diciptakan hanya untuk mencari dunia lalu mati, dan kita tidak diciptakan untuk bersenda gurau lalu mati. Akan tetapi, tujuan utama kita diciptakan adalah untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang paling berhak untuk diibadahi dengan benar.

Sumber: Kitab Qurratu ‘Uyūn al-Muwaḥḥidīn fī Taḥqīq Da‘wah al-Anbiyā’ wa al-Mursalīn.