Seorang yang beriman kepada Allah tidak memiliki alasan untuk berprasangka buruk kepada-Nya. Ketika seseorang mulai berprasangka buruk kepada Allah hal ini menunjukkan akan rendahnya kualitas iman dalam dirinya. Sebaliknya, orang-orang yang senantiasa berprasangka baik kepada Allah akan tampak memiliki keimanan yang tinggi; ia selalu berbaik sangka kepada Allah.

Barang siapa berprasangka buruk kepada Allah, maka itulah yang akan ia dapatkan dari sangkaannya. Sebaliknya, barang siapa yang senantiasa berprasangka baik kepada Allah, maka kebaikan akan senantiasa mengiringi setiap langkahnya.

Nabi ﷺ sangat menyukai orang-orang yang senantiasa optimis dalam segala hal. Sebagaimana sabda beliau ‎ﷺ :

يعجبني الفأل، قالوا: وما الفأل يا رسول الله؟ قال: الكلمة الطيبة

“Aku menyukai al-fa’l (pertanda baik/optimisme).” Para sahabat bertanya, “Apa itu al-fa’l, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Perkataan yang baik.”

Sebagaimana hadits Nabi yang lainnya juga beliau ‎ﷺ mengatakan:

يقولُ اللهُ تَعالى: أنا عِندَ ظَنِّ عَبدي بي،

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku…” (HR.Bukhori)

Ia menyangka Allah akan mengecewakannya

Dan kebanyakan manusia berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang tidak benar (prasangka buruk), baik dalam perkara yang berkaitan dengan diri mereka sendiri maupun terhadap apa yang Allah lakukan kepada selain mereka. Tidak ada yang selamat dari hal itu kecuali orang yang mengenal Allah, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengetahui konsekuensi dari hikmah dan pujian-Nya.

Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab:

«لا يسلم من ذلك إلا من عرف الأسماء والصفات وعرف نفسه»

“Tidak ada yang selamat dari hal itu kecuali orang yang mengenal nama-nama dan sifat-sifat (Allah) serta mengenal dirinya.”

Dan hampir kebanyakan manusia itu berprasangka buruk kepada Allah. Ketika mereka diuji mereka mengatakan sungguh rabbku telah menzalimiku dan menahanku dari apa yang seharusnya menjadi hakku. Padahal tidaklah keburukan itu terjadi melainkan karena ulah tangannya sendiri dan ia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun lisannya mengingkarinya dan tidak berani mengungkapkannya secara terang-terangan.

Maka periksalah dirimu, apakah engkau selamat dari hal tersebut yaitu sifat suudzon kepada Allah? Jika engkau selamat darinya, maka engkau telah selamat dari perkara yang sangat besar.

وَإِلَّا فَإِنِّي لَا أَخَالُكَ نَاجِيًا

“Jika tidak, maka aku tidak mengira engkau akan selamat.”

Hendaklah orang yang berakal dan tulus terhadap dirinya memberi perhatian besar pada perkara ini. Hendaklah ia bertaubat kepada Allah Ta‘ala dan senantiasa memohon ampun atas prasangka buruknya kepada Rabbnya. Dan hendaklah ia berprasangka buruk terhadap dirinya sendiri, yang merupakan tempat bersemayamnya segala keburukan dan sumber segala kejahatan.

Prasangka Baik kepada Allah

Seorang hamba wajib berbaik sangka kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda Allah ta‘ala berfirman:

((أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني؛ فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأٍ ذكرته في ملأٍ خيرٍ منه))

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu majelis, Aku mengingatnya di majelis yang lebih baik darinya.”

Al-Imam Shawkani berkata:

((أنا عند ظن عبدي بي))

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku…”

Mengandung dorongan dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya agar mereka memperbaiki prasangka mereka kepada-Nya, dan bahwa Dia memperlakukan mereka sesuai dengan prasangka tersebut.

Siapa yang berprasangka baik kepada-Nya, maka Allah akan melimpahkan kepadanya kebaikan yang besar, mengucurkan kepadanya karunia-karunia yang indah, menyebarkan kepadanya kemuliaan-kemuliaan-Nya dan anugerah-anugerah-Nya yang luas.

Dan siapa yang tidak berprasangka demikian, maka Allah tidak akan memperlakukannya seperti itu. Inilah makna bahwa Allah ta’ala sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Maka wajib bagi seorang hamba untuk selalu berbaik sangka kepada Rabbnya dalam seluruh keadaannya, dan hendaknya ia meminta pertolongan untuk mewujudkan hal itu dengan menghadirkan dalil-dalil yang menunjukkan luasnya rahmat Allah ta’ala.

Dari Jabir bin ‘Abdillah Al-Anshari رضي الله عنهما, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda:

((لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل))

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Abdullah ibn Mas’ud رضي الله عنه berkata:

“Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya, tidaklah seorang hamba mukmin diberi sesuatu yang lebih baik daripada husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Demi Dzat yang tidak ada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla melainkan Allah akan memberinya sesuai dengan prasangkanya. Hal itu karena kebaikan berada di tangan-Nya.”

Al-Imam Ibn al-Qayyim berkata:

“Semakin seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, baik harapannya kepada-Nya, dan jujur tawakalnya kepada-Nya, maka sesungguhnya Allah tidak akan mengecewakan harapannya sama sekali. Karena Dia tidak menyia-nyiakan harapan orang yang berharap dan tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal.”

Al-Imam Ibn al-Qayyim berkata tentang firman Allah Ta‘ala dalam Surah Ali ’Imran 154:

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

“Kemudian Allah menurunkan kepada kalian setelah kesedihan itu rasa aman berupa kantuk yang meliputi segolongan dari kalian, sementara segolongan yang lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang tidak benar, yaitu prasangka jahiliah.”

Beliau menjelaskan:

Ditafsirkan bahwa prasangka yang tidak layak kepada Allah itu adalah keyakinan bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya, bahwa urusannya akan lenyap, dan bahwa Allah akan menyerahkannya untuk dibunuh.

Juga ditafsirkan sebagai prasangka mereka bahwa apa yang menimpa mereka bukan dengan qadha dan qadar Allah, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Maka ini ditafsirkan sebagai pengingkaran terhadap hikmah, pengingkaran terhadap takdir, dan pengingkaran bahwa Allah akan menyempurnakan urusan Rasul-Nya serta memenangkan beliau atas seluruh agama.

Inilah prasangka buruk yang disangka oleh orang-orang munafik dan musyrik kepada-Nya, sebagaimana dalam Surah Al-Fath 6:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk kepada Allah. Bagi mereka giliran keburukan, Allah murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Sumber:

  • Kitab Khuttuwāt ilā as-Sa‘ādah karya Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Qāsim.
  • Mausū‘ah Al-Ādāb Asy-Syar‘iyyah melalui situs dorar.net.