Menjaga Hati

Pekerjaan Sunyi yang Menentukan Segalanya

Tidak semua yang rusak itu kelihatan.
Ada yang tetap tersenyum, tetap produktif, tetap kelihatan “baik-baik saja”, tapi hatinya sudah compang-camping.

Hati itu pusat komando.
Kalau dia sehat, pikiran akan menjadi jernih, ibadah terasa hidup, dan keputusan tidak liar.
Kalau dia lelah, semuanya akan ikut berantakan, walau luarnya kelihatan rapi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً، إذا صَلَحَتْ، صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذا فَسَدَتْ، فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألا وهي القَلْبُ


“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah kalbu (hati)” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Nabi tidak mengatakan jika pengetahuanmu baik maka baik seluruh tubuhmu atau jika hartamu baik maka seluruh tubuhmu ikut baik, tapi Nabi mengatakan Hati

Karena masalah manusia jarang dimulai dari kurang pintar.
Biasanya dimulai dari hati yang dibiarkan kotor, keras, atau sakit.


Menjaga Hati Bukan Soal Menjauh dari Dunia

Banyak orang salah paham.
Dikira menjaga hati itu berarti menjauh dari realita, memutus relasi dan tali persaudaraan, hidup sendirian, atau pura-pura suci.

Padahal justru sebaliknya.

Menjaga hati itu:

  • Tetap hidup di dunia, tapi tidak menuhankan dunia
  • Tetap bergaul, tapi tahu batas
  • Tetap ambisius, tapi tidak rakus
  • Tetap terluka, tapi tidak menyimpan dendam

Ini bukan soal lari.
Ini soal mengendalikan.


Penyakit Hati Itu Halus, Tapi Efeknya Berbahaya

Hati tidak langsung mati.
Dia lelah dulu.
Kemudian keras.
Lalu cuek.
Baru setelah itu rusak total.

Sedikit iri yang dibiarkan.
Sedikit riya yang ditoleransi.
Sedikit dengki yang dipelihara.

Tidak terasa hari ini.
Tapi besok, ibadah jadi hambar.
Lusa, nasihat terasa mengganggu.
Dan tiba-tiba, yang salah selalu orang lain.

Makanya menjaga hati itu kerja harian, bukan proyek musiman.


Kategori Ini Ada Untuk Apa?

“Menjaga Hati” tidak hadir untuk menghakimi.
Tidak juga untuk menggurui.

Kategori ini ditulis untuk:

  • Mereka yang ingin dekat dengan Allah tapi sering lalai
  • Mereka yang ingin ikhlas tapi masih sering goyah
  • Mereka yang ingin hati tenang tanpa harus membohongi diri sendiri

Di sini, hati tidak dipaksa suci dalam waktu cepat,
Hati diajak jujur, lalu diarahkan.

Kadang lewat ayat dan petunjuk Nabi
Kadang lewat realita, kisah-kisah yang menakjubkan.
Kadang lewat penyakit yang kita semua kenal.


Karena Hati yang Dijaga, Akan Menjaga yang Lain

Ibadah lebih hidup.
Ilmu lebih rendah hati.
Amal lebih tahan lama.

Dan yang paling penting:
hidup terasa punya arah dan bermakna.

Kalau dunia ini ribut, biarlah.
Yang penting, hatimu tidak ikut bising.

kalau dunia ini penuh dengan kelalaian, biarlah

Yang penting, hatimu tetap istiqomah

Menjaga hati memang sulit.
Tapi dari sanalah segalanya dimulai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top