Sebab terbesar seseorang mendapatkan keselamatan pada hari Kiamat adalah tauhid. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَبِلَ مِنِّي الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُ عَلَى عَمِّي، فَرَدَّهَا عَلَيَّ، فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ

“Barang siapa menerima dariku kalimat yang pernah aku tawarkan kepada pamanku, lalu ia menerimanya, maka kalimat tersebut menjadi keselamatan baginya.” (HR. Ahmad)

Kalimat yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah kalimat tauhid: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ.

Tauhid merupakan hikmah terbesar dari penciptaan kita. Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Namun, perlu kita ketahui bahwa keselamatan yang diperoleh karena tauhid memiliki dua bentuk:

Pertama: selamat dari api neraka dan tidak memasukinya sama sekali. Keadaan ini diperoleh oleh orang-orang yang merealisasikan tauhid dengan sempurna. Mereka akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Kedua: selamat dari kekekalan di dalam api neraka. Artinya, seseorang mungkin saja masuk ke dalam neraka karena dosa-dosanya, tetapi ia tidak akan kekal di dalamnya selama ia meninggal dalam keadaan bertauhid dan tidak membawa dosa syirik.

Tidak ada seorang pun di antara kita yang luput dari dosa. Akan tetapi, sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang segera bertobat dan kembali kepada Allah.

Namun, apabila seseorang meninggal sebelum sempat bertobat dari dosa selain syirik, sedangkan ia masih memiliki tauhid, maka urusannya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya; dan jika Allah menghendaki, Dia mengazabnya. Akan tetapi, ia tidak akan kekal di dalam neraka selama ia meninggal dalam keadaan bertauhid.

Adapun orang yang meninggal dalam keadaan membawa dosa syirik dan belum bertobat darinya, maka tidak ada keselamatan baginya. Allah mengharamkan surga atasnya dan tempat kembalinya adalah neraka.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Mā’idah: 72)

Maka, jangan sampai kita hanya mengenal tauhid, tetapi tidak merealisasikannya dalam kehidupan. Karena keselamatan pada hari yang tidak ada lagi keselamatan kecuali dengan rahmat Allah dimulai dengan menjaga tauhid hingga akhir hayat.

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Allah mengampuni seluruh dosa bagi orang yang bertobat kepada-Nya, sedangkan dosa syirik apabila seseorang meninggal dalam keadaan belum bertobat darinya, maka Allah tidak akan mengampuninya.

Namun, bagi orang yang sudah terlanjur melakukan kesyirikan, jangan pernah merasa terputus dari rahmat Allah. Selama napas masih dikandung badan, pintu tobat masih terbuka lebar.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)

Ayat ini menjelaskan bahwa dosa syirik yang dibawa sampai mati tanpa tobat tidak akan diampuni oleh Allah. Adapun orang yang bertobat dari kesyirikan sebelum meninggal, maka Allah membuka pintu ampunan baginya.

Allah juga melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Berputus asa dari rahmat Allah merupakan sikap yang tercela, karena seorang hamba seharusnya senantiasa berharap kepada ampunan dan rahmat-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Maka, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, jangan menunda untuk kembali kepada Allah. Tinggalkan kesyirikan, ikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan bertobatlah dengan tobat yang sebenar-benarnya.

Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu tobat masih terbuka.

Syarat-Syarat Tobat

Dalam masalah tobat, hendaknya seorang hamba bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Tobat memiliki tiga syarat:

  1. Menyesali dosa yang telah lalu, yaitu menyesali kemaksiatan yang pernah dilakukan dan merasa sedih atas dosa tersebut.
  2. Meninggalkan dosa tersebut, yaitu berhenti darinya dan menjauhinya.
  3. Memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya, karena takut kepada Allah dan sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya.

Namun, terkadang tidak semudah itu bagi seorang hamba untuk bertobat. Lantas, bagaimana agar Allah memberikan hidayah dan memudahkan kita untuk bertobat?

Di antaranya adalah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mentadaburinya, dan merenungkan ancaman yang Allah berikan kepada orang-orang yang bermaksiat berupa azab yang pedih. Demikian pula dengan mengetahui apa yang Allah janjikan kepada orang-orang yang bertakwa berupa kebaikan yang besar, negeri kemuliaan, dan kenikmatan yang kekal.

Membaca hadis-hadis Nabi ﷺ, mendengarkan kajian, menghadiri halaqah dan majelis ilmu, serta bergaul dengan para ulama dan orang-orang saleh juga merupakan sebab-sebab yang dapat membantu seseorang untuk bertobat.

Di antara sebab lainnya adalah memohon kepada Allah dan terus-menerus merendahkan diri di hadapan-Nya. Hendaknya seorang hamba memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي التَّوْبَةَ النَّصُوحَ، اللَّهُمَّ اهْدِنِي صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Ya Allah, karuniakanlah kepadaku tobat yang nasuha. Ya Allah, tunjukilah aku jalan-Mu yang lurus.”

Hendaknya ia memohon kepada Rabbnya ketika sujud, pada akhir tasyahud sebelum salam, pada akhir malam, di pertengahan malam, serta di antara azan dan iqamah. Itu adalah waktu-waktu yang agung yang diharapkan menjadi waktu dikabulkannya doa.

Maka, jangan merasa bahwa diri kita terlalu jauh untuk kembali kepada Allah. Mintalah kepada-Nya hidayah dan pertolongan untuk bertobat, kemudian berusahalah meninggalkan dosa dan memperbanyak amal saleh.

Sebab, hidayah adalah karunia Allah. Kita hanya perlu terus mengetuk pintu-Nya dengan doa, tobat, dan kesungguhan.

Sumber:

  1. Mujibāt Lin-Najāh, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.
  2. Situs resmi Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz: binbaz.org.sa.