Sesungguhnya membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya merupakan pintu hidayah yang paling agung; karena ia memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus, menunjukkan dan menuntun kepada perbuatan-perbuatan baik serta meninggalkan perbuatan buruk. Al-Qur’an memenuhi hati dengan iman dan pengenalan kepada Allah, menumbuhkan semangat untuk meraih keberuntungan dan kemenangan di negeri kemuliaan (surga), serta menakut-nakuti dan memperingatkan dari kerugian dan kehinaan di negeri kehinaan dan penyesalan (neraka).
Di dalamnya terdapat banyak pelajaran dan perumpamaan yang Allah buat untuk manusia, dan tidak ada yang dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. Orang yang membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan pemahaman akan terdorong untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka ia mengagungkan Allah, mentauhidkan-Nya, menunaikan salat dan zakatnya, menunaikan kewajiban hajinya, berpuasa di bulannya, serta berlomba-lomba dalam amalan-amalan sunnah dan berbagai bentuk ketaatan, mengharap rahmat dan keridaan Allah. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29)
Allah Ta‘ala juga berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beramal saleh bahwa bagi mereka pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)
Diantara pembahasan yang perlu diperhatikan dari pentingnya memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya adalah sebagai berikut:
- Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya.
Membaca Al-Qur’an, mentadabburinya, dan mengamalkannya adalah kebiasaan orang-orang beriman, sifat para wali Allah yang saleh, serta sebab Allah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya. Adapun meninggalkan tadabbur dan tidak mengamalkannya adalah sifat orang-orang yang bermaksiat dan berpaling, serta sebab kesesatan orang-orang yang sesat dan sombong.
Allah Ta‘ala berfirman, mengingkari perbuatan mereka:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
قَدْ كَانَتْ ءَايَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ تَنكِصُونَ مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ ءَابَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ
“Sungguh, ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepada kalian, tetapi kalian selalu berpaling ke belakang (menolak). Dengan menyombongkan diri terhadapnya dan berbicara di malam hari dengan perkataan yang tidak pantas (tentangnya). Maka apakah mereka tidak mentadabburi perkataan (Al-Qur’an) itu, ataukah telah datang kepada mereka sesuatu yang belum pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mu’minun: 66–68)
Maksudnya: seandainya mereka mentadabburi Al-Qur’an, niscaya hal itu akan mewajibkan mereka untuk beriman dan mencegah mereka dari kekufuran serta kemaksiatan. Maka hal itu menunjukkan bahwa mentadabburi Al-Qur’an mengajak kepada setiap kebaikan dan menjaga dari setiap keburukan.
- Allah menyifati Al-Qur’an sebagai sebaik-baik perkataan.
Allah menyifati Al-Qur’an sebagai sebaik-baik perkataan. Dia menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat ayat-ayat yang diulang-ulang agar dapat dipahami, dan bahwa kulit orang-orang yang saleh merinding ketika mendengarnya karena rasa takut dan khusyuk.
Allah Ta‘ala berfirman:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Merinding karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23)
- Allah Subhanahu wa Ta‘ala menegur orang-orang beriman.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga menegur orang-orang beriman karena tidak khusyuk ketika mendengar Al-Qur’an, dan memperingatkan mereka agar tidak menyerupai orang-orang kafir dalam hal itu. Dia berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka ketika mengingat Allah dan terhadap apa yang telah turun dari kebenaran (Al-Qur’an), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diberi Kitab sebelumnya, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)
- Al-Qur’an menambah keimanan.
Allah juga mengabarkan bahwa Al-Qur’an menambah keimanan orang-orang beriman apabila mereka membacanya dan mentadabburi ayat-ayatnya. Dia berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
- Allah Ta‘ala telah memperingatkan hamba-hamba-Nya.
Allah Ta‘ala telah memperingatkan hamba-hamba-Nya dengan peringatan yang sangat keras dari sikap berpaling terhadap Al-Qur’an yang mulia. Dia menjelaskan kepada mereka bahaya perbuatan tersebut dan dosa besar yang akan dipikul oleh orang yang melakukannya pada hari kiamat, akibat sikap berpalingnya dari Al-Qur’an serta tidak menerimanya dengan sikap tunduk dan patuh.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا مَّنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلًا
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami. Barang siapa berpaling darinya, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa pada hari kiamat. Mereka kekal di dalamnya. Dan sungguh buruklah beban yang mereka pikul pada hari kiamat.” (QS. Thaha: 99–101)
Adapun menyikapinya dengan berpaling dan menjauh, atau bahkan lebih buruk dari itu berupa pengingkaran dan penolakan, maka itu adalah penyimpangan, kesesatan, kekufuran, dan kedurhakaan yang pelakunya berhak mendapatkan hukuman di dunia berupa kehidupan yang sempit, kesengsaraan, dan keterhalangan (dari kebaikan). Dan pada hari kiamat ia akan dilupakan dan dibangkitkan dalam keadaan buta, lalu digiring bersama orang-orang yang buta ke dalam neraka.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkanku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau melupakannya, maka pada hari ini engkau pun dilupakan.” (QS. Thaha: 123–126)
Maka sudah sepatutnya bagi setiap Muslim, terlebih lagi pada bulan yang penuh berkah dan musim agung ini, untuk mengagungkan Al-Qur’an yang mulia, memuliakannya dengan sebenar-benar pemuliaan, serta membacanya dengan bacaan yang benar, yaitu dengan mentadabburi ayat-ayatnya merenungkannya dan memahami makna-maknanya serta mengamalkan konsekuensinya.
Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Yang dituntut dari Al-Qur’an adalah memahami makna-maknanya dan mengamalkannya. Jika ini bukan menjadi cita-cita (tujuan utama) bagi seorang penghafalnya, maka ia bukan termasuk ahli ilmu dan agama.”
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an yang mulia sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami, serta lenyapnya kegelisahan dan kesusahan kami. Ajarkanlah kepada kami darinya apa yang belum kami ketahui, dan berilah kami manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk membacanya dengan baik dan mentadabburinya. Berilah kami taufik untuk mengamalkannya, mengikuti perintahnya, dan menjauhi larangannya. Angkatlah derajat kami dengannya pada hari kami menghadap-Mu. Dan lindungilah kami, ya Allah, dari kelalaian dan sikap berpaling darinya.
Sumber:
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Maqolat Romadoniyah Syahru Syiam Adab wa Ahkam. hlm. 62-67